Kosongsatunews.com, KANDAS! IMPIAN IMAN KARTOSOEWIRJO GANTI PANCASILA BERAKHIR DI EKSEKUSI MATI
Tepat 12 Syawal 1368 Hijriah atau 7 Agustus 1945 yang lalu, di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Tasikmalaya, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang merupakan Imam Negara Islam Indonesia mengucapkan sebaris kalimat mengenai berdirinya Negara Islam, begini kira-kira kalimatnya kala itu,
“Kami ummat Islam bangsa Indonesia menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia, maka hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu ialah Hukum Islam.” Kata Kartosoewirjo.
Saat itu, Indonesia baru saja merdeka dan masih terombang-ambing. Akibat perjanjian Renville, Belanda hanya mengakui segelintir wilayah Indonesia, itu adalah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan juga Sumatera.
Tentara Nasional Indonesia (TNI) pun diinstruksikan untuk pindah dari Jawa Barat dan juga Jawa Timur ke wilayah republik. Divisi Siliwangi di Jawa Barat pun terpaksa meninggalkan wilayahnya menuju ke Yogyakarta dan juga solo.
Kartosoewirjo pun menilai keputusan yang diambil oleh Amir Syarifuddin, selaku Menteri Agama kala itu sangat merugikan Republik Indonesia. Dirinya dan juga sejumlah laskar bersenjata menolak untuk ikut hijrah.
Dan ditengah-tengah kebimbangan karena kekosongan tersebut, Kartosoewirjo memploklamirkan berdirinya negara Islam Indonesia yang diberi nama Darul Islam, Tentaranya dinamakn sebagai Tentara Islam Indonesia yang dikenal sebagai DI/TII.
Kartosoewirjo sebenarnya merupakan kawan karib Soekarno. Saat masih muda, Soekarno, Muso, dan Kartosoewirjo bahkan pernah menempati kosan yang sama di rumah Tjokroaminoto yang berada di Surabaya, Jawa Timur
Namun akhirnya, tiga sekawan tersebut memilih jalan berbeda. Muso memimpin PKI Madiun dan melawan Sokarno. Sementara Kartosoewirjo berideologi kanan dan berseberangan dengan Soekarno yang merupakan sosok nasionalis.
Perang gerilya berkobar di Jawa Barat. Sejumlah tokoh daerah lainnya turut mengangkat sumpah kepada Imam Kartosowirjo. Amir Fatah untuk Jawa tengah, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, Ibnu Hajar di Kalimantan dan Teuku Dud Bereuh di Aceh.
Pemberontakan yang dilakukan DI/TII merupakan perjuangan terberat yang dihadapi TNI. Tak hanya melawan Belanda, TNI juga direpotkan dengan perlawanan dari Darul Islam. Semua tokoh yang menentang sosok Kartosoewirjo dianggap sebagai musuh, bahkan tokoh Islam di Jawa Barat yang berseberangan juga diserangnya.
Tokoh Islam ini adalah Kiai Yusuf Tauzirie, seorang ulama dari Garut. Ribuan gerombolan DI/TII berusaha menyerbu pondok pesantren Kiai Yusuf. Namun sang kiai tidak ingin menyerah dan memukul mundur penyerang. Pelawanan DI/TII semakin menjadi-jadi, sampai Panglima Siliwangi Kolonel Alex Kawilarang merasa perlu membentuk pasukan khusus menghadapi gerombolan tersebut.
Misi pertama kami mengejar gerombolan DI/TII di sekitar Garut dan Tasik,” papar Anta, seorang pensiunan prajurit baret merah.
Pasukan khusus yang merupakan cikal bakal Kopassus TNI AD ini berkali-kali hampir menangkap Kartosoewirjo namun berkali-kali gagal karena berbagai halangan. Sang Imam itu juga memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi Soekarno lantaran dianggap menyimpang dengan berdasar pada Pancasila dan bukan Islam.
“Soekarno menyatakan bahwa Indonesia harus berdasarkan Pancasila, bukan Islam. Sebagai jawaban atas tantangan ini kita harus membunuh Soekarno,” instruksi Kartosowirjo pada bawahannya.
Dan percobaan pembunuhan yang paling terkenang sampai saat ini adalah peristiwa Cikini dimana mobil Sokarno dilempar granat dan ada juga penembakan saat Sokarno tengah Salat Idul Adha di Istana Negara, dan untung saja Presiden Pertama Indonesia itu lolos dari percobaan pembunuhan.
Akhir perlawanan Kartosoewirjo terjadi pada 4 Juni 1962, ia ditangkap di Gunung Geber, Jawa Barat. Tiga bulan setelah ditangkap, ia dieksekusi. Pasukan yang berhasil menangkap Kartosowirjo adalah Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi, dipimpin Letnan Dua Suhada.
Dan berakhirlah perjuangan Kartosoewirjo dan pengikutnya setelah 13 tahun berjuang dengan DI/TII. Imam besar DI/TII itu dijatuhi hukuman mati di sebuah pulau sunyi di Kepualauan Seribu. Dan puluhan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2012, foto-foto eksekusi mati Kartosowirjo itu terungkap.
Sementara keluarga Kartosoewirjo mengaku sudah menerima dengan iklas takdir itu. Mereka bersyukur akhirnya kejelasan soal nasib sang ayah terbuka secara terang benderang walaupun pahit.
Waspadai kebangkitan generasi DI/TII !!!
#HWMI
#HubbulWathonMinalIman
#NKRIHargaMati