KOSONGSATUNEWS.COM, KUALA LUMPUR, — Memasuki hari kelima pelaksanaan program Benchmarking Internasional di Kuala Lumpur, Malaysia, dan Bangkok, Thailand, mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) melakukan kajian terhadap pengelolaan destinasi wisata ikonik Genting Highlands, Kuala Lumpur, Selasa (27/1/2026).
Dosen pembimbing kegiatan, Dr. Ir. H. Muhammad Rais Rahmat Razak, M.Si., yang juga menjabat Wakil Rektor I UMS Rappang, mengatakan bahwa Genting Highlands menjadi contoh praktik terbaik (best practice) pengelolaan pariwisata yang dibangun secara mandiri dengan memanfaatkan keindahan alam sebagai modal utama.
“Pemerintah Malaysia berhasil mengembangkan kawasan wisata dengan mengintegrasikan potensi alam, infrastruktur ekonomi, serta layanan publik yang modern. Kombinasi ini menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan lokal maupun mancanegara,” ujar Dr. Rais.
Ia menambahkan, pengalaman tersebut memberikan pemahaman langsung kepada mahasiswa mengenai pentingnya inovasi dalam tata kelola pelayanan publik, khususnya dalam sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Program benchmarking ini diikuti mahasiswa Pascasarjana Administrasi Publik UMS Rappang yang sebagian besar merupakan aparatur pemerintah, termasuk pegawai Badan Pusat Statistik (BPS) dari Kabupaten Sidenreng Rappang, Pinrang, dan Enrekang.
Para peserta menyampaikan apresiasi atas program tersebut yang dinilai menjadi ciri khas pembelajaran Pascasarjana UMS Rappang.
Salah satu peserta, Aswar Arafat, mahasiswa yang bekerja sebagai pegawai BPS Pinrang, mengungkapkan bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru baginya, terutama dalam memahami tata kelola destinasi wisata dan pelayanan publik di negara lain.
“Kegiatan benchmarking ini sangat membuka wawasan saya. Ini merupakan pengalaman pertama ke luar negeri, mulai dari proses imigrasi hingga memahami tata cara melintasi batas negara secara resmi,” kata Aswar.
Menurut dia, pengalaman tersebut memberikan pengetahuan praktis yang sebelumnya hanya dipahami secara teoritis. Lebih jauh,
ia memperoleh gambaran nyata mengenai pentingnya sistem layanan publik yang tertib, alur pelayanan yang jelas, serta penyediaan informasi yang mudah diakses oleh masyarakat.
Selain itu, Aswar menilai terdapat sejumlah budaya positif yang layak ditiru, seperti kedisiplinan, keteraturan, ketepatan waktu, serta kejelasan informasi dalam setiap layanan publik.
Budaya tersebut dinilai mampu menciptakan rasa nyaman dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pelayanan.
“Pengalaman ini juga memperkaya cara pandang saya dalam menyikapi keberagaman etnis, budaya, dan bahasa. Interaksi lintas budaya selama kegiatan berlangsung menumbuhkan sikap saling menghargai dan toleransi, yang sangat penting dalam penyelenggaraan administrasi publik di masyarakat majemuk,” ujarnya.
Ia menegaskan, kegiatan benchmarking ini bukan sekadar kunjungan akademik, melainkan pengalaman reflektif yang membentuk cara berpikir dan bersikap sebagai mahasiswa Administrasi Publik.
“Peningkatan kualitas layanan publik tidak hanya ditentukan oleh regulasi dan struktur kelembagaan, tetapi juga oleh budaya kerja, sikap aparatur, serta kemampuan melayani masyarakat secara manusiawi,” kata Aswar.
Sementara itu, pada waktu yang sama, rombongan kedua yang berjumlah delapan orang dan didominasi pegawai pajak dari Kota Parepare telah bertolak dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju Kuala Lumpur.
Rombongan tersebut dijadwalkan bergabung dengan rombongan pertama sebelum melanjutkan rangkaian kegiatan benchmarking ke North Bangkok University, Thailand.(MDS)








