Event “Bulan Mamase” Siap Naik Kelas Nasional, Dorong Budaya dan UMKM Mamasa Lebih Mendunia

Mamasa, Sulawesi Barat – Semangat pelestarian budaya berpadu dengan penguatan ekonomi lokal tampak dalam gelaran Bulan Mamase 2026, sebuah event tahunan yang kembali digelar meriah di Kabupaten Mamasa. Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang perayaan budaya, tetapi juga diarahkan untuk menembus panggung nasional melalui program Kharisma Event Nusantara (KEN).

Dorongan kuat datang dari Suhardi Duka yang secara langsung mengajak Pemerintah Kabupaten Mamasa segera mendaftarkan event ini ke dalam KEN. Menurutnya, langkah tersebut akan membuka peluang promosi lebih luas sekaligus dukungan anggaran dari pemerintah provinsi di masa mendatang.

“Event ini punya potensi besar. Tinggal bagaimana dikemas lebih baik agar bisa bersaing di tingkat nasional,” ujarnya saat membuka kegiatan di Tribun Lapangan Kondosapata, Senin (6/4/2026).

Budaya sebagai Identitas dan Kekuatan Ekonomi

Parade budaya dari 17 kecamatan menjadi salah satu daya tarik utama dalam pembukaan event ini. Ragam tradisi lokal ditampilkan dengan penuh kebanggaan, mencerminkan identitas kuat masyarakat Mamasa yang masih terjaga hingga kini.

Gubernur menilai, kekayaan budaya seperti penggunaan busana tradisional sambu’ harus terus dipertahankan sekaligus dikembangkan agar memiliki daya tarik lebih luas. Ia mencontohkan bagaimana batik mampu berkembang dari simbol daerah menjadi identitas nasional bernilai ekonomi tinggi.

“Budaya tidak hanya untuk dilestarikan, tapi juga bisa menjadi sumber kesejahteraan jika dikelola dengan baik,” tegasnya.

UMKM Lokal Jadi Motor Penggerak

Tak hanya budaya, event ini juga menjadi wadah strategis bagi pelaku UMKM lokal. Sebanyak 48 pelaku usaha dilibatkan dalam pameran produk unggulan, mulai dari olahan kopi, markisa, hingga nenas khas Mamasa.

Gubernur mendorong agar produk-produk tersebut tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, melainkan telah melalui proses pengolahan dan pengemasan modern agar memiliki nilai tambah dan daya saing.

Salah satu ide yang mencuat adalah branding produk lokal, seperti kopi robusta Mamasa yang diusulkan memiliki identitas khusus dengan kemasan menarik. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan nilai jual sekaligus memperluas pasar.

Komitmen Pemerintah Daerah

Sementara itu, Welem Sambolangi menegaskan bahwa Bulan Mamase merupakan agenda tahunan yang menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kearifan lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Event ini berlangsung mulai 6 hingga 30 April 2026, dengan membuka ruang bagi pelaku usaha kecil untuk berpartisipasi di sepanjang jalur utama kota Mamasa.

“Kami ingin event ini bukan hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM lokal,” ujarnya.

Menuju Event Berkelas Nasional

Dengan dukungan pemerintah provinsi dan potensi budaya yang kuat, Bulan Mamase dinilai memiliki peluang besar untuk masuk dalam kalender event nasional. Jika berhasil terdaftar dalam KEN, event ini tidak hanya akan meningkatkan kunjungan wisata, tetapi juga memperkuat posisi Mamasa sebagai destinasi budaya unggulan di Sulawesi Barat.

Ke depan, sinergi antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif diharapkan mampu menjadikan Mamasa sebagai daerah yang tidak hanya kaya tradisi, tetapi juga mandiri secara ekonomi dan dikenal hingga tingkat nasional. (Ayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *