TINDAKAN TEGAS REKTOR UIM PATUT ACUNGAN JEMPOL

DI Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Ghazali, kecamuk antara menjaga marwah kampus dan menjaga seorang dosen tetap mendapat penghasilan untuk keluarganya, dihadapi langsung oleh Rektor, Prof. Dr. KH. Muammar Bakry. Itu ketika sebuah video viral mengguncang publik seantero Tanah Air: seorang dosen meludahi kasir swalayan di Makassar.
.
Di tengah riuh media sosial, hujatan publik, dan rasa kecewa civitas akademika, Muammar memilih jalan yang tak main-main dan tegas: memecat dosen tersebut dari UIM.
.
Keputusan itu bukan reaksi emosional semata, melainkan lahir dari sidang Komisi Disiplin dan Komisi Etik kampus. Publik tahu, beban moral sepenuhnya berada di pundak rektor. Sebab dosen yang dipecat, Amal Said (AS), adalah figur yang mengabdi hampir 20 tahun, bahkan pernah menerima penghargaan dari Presiden.
.
“Apa pun alasan dan sebab yang mendahuluinya, tindakan tersebut merupakan perbuatan yang jauh dari nilai-nilai akhlak, sangat tidak etis, serta melanggar kode etik dosen,” tegas Muammar kepada wartawan, Senin (29/12/2025). Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pesan kuat: tak ada prestasi yang bisa menebus pelecehan terhadap martabat manusia.
.
Keberanian Mengambil Risiko Moral. Sebagai dosen ASN di bawah LLDIKTI Wilayah IX yang diperbantukan di UIM, Amal Said punya bargaining yang cukup kuat. Banyak pimpinan mungkin memilih langkah aman —cuma memberi teguran, pembinaan, atau menunggu proses hukum. Namun Muammar menolak kompromi. “Keputusan pemberhentian ini berlaku mulai hari ini,” ujarnya lugas.
.
Bagi Muammar, UIM bukan sekadar institusi akademik, tetapi rumah nilai. Kampus Islam, kata dia, harus berdiri di atas prinsip rahmatan lil ‘alamin, kemanusiaan, dan kearifan lokal. Ketika nilai itu dilanggar secara terang-terangan, maka ketegasan adalah bentuk kasih sayang tertinggi—bagi korban, bagi mahasiswa, dan bagi masa depan kampus. Ia bahkan menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada korban.
.
“Atas nama Universitas Islam Makassar, kami menyampaikan permohonan maaf kepada korban. Tindakan ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai yang kami junjung tinggi,” katanya. Di titik ini, Muammar tidak sekadar bertindak sebagai rektor, tetapi sebagai pemimpin moral. Di Atas Pengabdian, Ada Etika. Dalam sidang etik, AS mengakui perbuatannya dan menyampaikan penyesalan. Namun Muammar menutup ruang kompromi.
.
“Menyesal bukan berarti bebas dari konsekuensi. Keputusan tetap harus diambil demi menjaga marwah institusi,” ujarnya. Kalimat itu mencerminkan pandangan hidup Muammar: jabatan, gelar, dan masa pengabdian tidak boleh mengalahkan keadilan etik.
.
Jejak Panjang Kepemimpinan Nilai
.
Sikap Muammar hari itu bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah potret konsistensi seorang ulama-intelektual yang sejak muda hidup dalam dunia pendidikan dan dakwah.
.
Lahir di Ujungpandang pada 22 November 1973, Muammar Bakry dikenal luas sebagai Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami, Sekretaris MUI Sulawesi Selatan, Guru Besar Hukum Islam Kontemporer, hingga Ketua FKPT Sulsel. Ia juga mendirikan pesantren, sekolah Islam terpadu, yayasan moderasi Islam, dan menulis puluhan buku tentang fiqh, akhlak, dan moderasi beragama.
.
Riwayat pendidikannya—dari Pesantren DDI Mangkoso hingga Universitas Al-Azhar Kairo—membentuk satu benang merah: Islam harus berpihak pada martabat manusia. Maka ketika etika diinjak-injak oleh oknum di lingkungan yang ia pimpin, Muammar memilih berdiri di garis depan, meski risikonya besar.
.
Kasus ini menjadi cermin bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Bahwa kampus bukan menara gading yang kebal kritik, tetapi ruang teladan. Bahwa dosen bukan hanya pengajar ilmu, melainkan penjaga adab. Dan bahwa pemimpin sejati diukur bukan dari pidato, melainkan dari keputusan sulit yang ia ambil saat nilai diuji.
.
Di tengah krisis keteladanan, langkah Prof. Dr. KH. Muammar Bakry memberi pesan jelas: keadilan etik tidak boleh kalah oleh senioritas, dan marwah kampus tidak boleh dikorbankan demi kenyamanan.
.
Dalam diam sidang etik dan ketegasan keputusan, Muammar menunjukkan satu hal penting—bahwa heroisme sejati terkadang tidak berteriak, tetapi berdiri tegak ketika yang lain memilih menunduk. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *