HMI Mamasa Resmi Berstatus Penuh, Siap Transformasi Kaderisasi dari Oratorik ke Era Algoritma

KOSONGSATUNEWS.COM, MAMASA – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mamasa resmi menyandang status cabang penuh setelah ditetapkan dalam Rapat Pleno II Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) yang digelar pada 12–15 Februari 2026 di Kabupaten Tangerang, Jakarta.

Penetapan tersebut menjadi tonggak penting bagi perjalanan HMI Mamasa. Status cabang penuh tidak hanya mengukuhkan kemandirian organisasi di tingkat daerah, tetapi juga membuka ruang lebih luas untuk penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan sistem kaderisasi yang lebih progresif.

Ketua Umum HMI Cabang Mamasa, Arifin Djalil, menyebutkan bahwa status baru ini menjadi energi transformasi bagi organisasi yang dipimpinnya.

“Status penuh ini bukan sekadar administratif, tetapi menjadi momentum strategis untuk memperkuat otonomi, inovasi program, serta mempercepat peningkatan kualitas kader,” ujarnya.

Otonomi Lebih Luas, Gerak Lebih Cepat

Dengan status cabang penuh, HMI Mamasa kini memiliki kewenangan lebih besar dalam merancang dan mengeksekusi program kerja sesuai dengan kebutuhan lokal Kabupaten Mamasa. Otonomi tersebut dinilai penting agar organisasi mampu merespons dinamika sosial, intelektual, dan kemahasiswaan secara lebih cepat dan tepat.

HMI Mamasa diharapkan mampu menjadi lokomotif gerakan mahasiswa yang efektif, tidak hanya dalam wacana, tetapi juga dalam aksi nyata yang terukur dan berdampak.

Transformasi Kaderisasi: Dari Retorika ke Pendekatan Sistematis

Salah satu fokus utama pasca-penetapan status penuh adalah pembaruan sistem kaderisasi. Jika selama ini kaderisasi identik dengan penguatan kemampuan oratorik dan diskusi, ke depan pendekatan tersebut akan dipadukan dengan pola pikir sistematis dan berbasis data.

Konsep yang diusung adalah transformasi dari ruang “oratorik” menuju pendekatan “algoritma” — bukan mengganti tradisi lama, tetapi menyempurnakannya dengan metode berpikir analitis, terstruktur, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Beberapa langkah strategis yang akan didorong antara lain:

Pembiasaan berpikir berbasis data (data-driven) dalam mengkaji persoalan sosial.

Penyusunan program berbasis sistem yang terukur dan berkelanjutan.

Penguatan literasi digital, termasuk pemanfaatan media sosial dan pemahaman teknologi kecerdasan buatan.

Pengembangan pola kolaborasi digital dalam diskusi dan perumusan kebijakan organisasi.

Menurut Arifin, kader HMI ke depan tidak cukup hanya piawai berpidato, tetapi juga harus mampu membaca data, menganalisis persoalan secara komprehensif, dan menghadirkan solusi konkret.

Dorong Kualitas Diskusi dan Gerakan Sosial

Transformasi ini diyakini akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas diskusi internal, efektivitas gerakan sosial, hingga kontribusi nyata bagi masyarakat.

Diskusi dan kajian tidak lagi hanya bertumpu pada retorika, tetapi diperkuat dengan riset dan analisis mendalam. Program kerja pun akan dirancang secara sistematis agar lebih terarah dan memiliki indikator capaian yang jelas.

“Harapan kami, HMI Mamasa bisa menjadi laboratorium intelektual yang melahirkan kader adaptif, inovatif, dan siap menjawab tantangan era digital,” tambahnya.

Siap Jadi Percontohan

Meski demikian, transformasi tersebut diakui tidak lepas dari tantangan. Dibutuhkan komitmen kolektif, kesiapan beradaptasi, serta investasi dalam penguatan kapasitas kader.

Namun dengan semangat baru pasca-penetapan status cabang penuh oleh PB HMI, HMI Mamasa optimistis mampu menjadi percontohan bagi cabang lain dalam mengintegrasikan tradisi intelektual dengan inovasi teknologi.

Dengan langkah tersebut, HMI Mamasa menegaskan diri bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, melainkan ruang pembentukan kepemimpinan masa depan yang responsif terhadap perkembangan zaman. (Ayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *