Ketika Swakelola Sekolah “Dikawal” Terlalu Semangat

HIBURAN, kosongsatunews.com – Di sebuah kabupaten antah-berantah, hiduplah para kepala sekolah yang mendadak rajin membuka grup WhatsApp bernama “Revitalisasi 2026 Full Senyum”. Awalnya semua tampak bahagia. Dana swakelola sekolah akan turun. Ruang kelas mau diperbaiki. Toilet bocor mau diganti. Genteng yang selama ini berbunyi “duk-duk-duk” saat hujan akhirnya punya harapan pensiun.

“Ini saatnya sekolah mandiri!” kata Pak Kepala Sekolah sambil membusungkan dada di depan guru-guru.

Guru honorer tepuk tangan.
Penjaga sekolah ikut senyum.
Bahkan ayam di belakang kantor sekolah tampak lebih optimistis.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Baru tiga hari rapat, tiba-tiba muncul tamu misterius.

“Selamat siang, Pak. Kami hanya mau membantu,” katanya ramah sambil duduk tanpa dipersilakan.

“Bantu bagaimana?” tanya kepala sekolah hati-hati.

“Oh gampang. Tukang sudah ada. Material sudah ada. Toko bangunan sudah ada. Tinggal bapak tanda tangan saja.”

Kepala sekolah mulai berkeringat meski kipas angin tiga biji sedang berputar maksimal.

“Lho… tapi ini kan swakelola sekolah?”

“Iya, Pak. Swakelola… tapi dikelola bersama-sama.”

“Bersama siapa?”

“Bersama kami tentunya.”

Sejak hari itu, kepala sekolah tidak lagi sibuk memikirkan pendidikan karakter. Ia lebih sibuk memikirkan cara menjawab telepon dari berbagai pihak yang mendadak ahli konstruksi.
Ada yang mendadak jadi konsultan semen.
Ada yang mendadak paham keramik.
Bahkan ada yang baru kemarin jual ikan, hari ini sudah bicara tentang mutu besi beton.

Yang paling lucu, semua datang dengan kalimat yang sama:
“Kami cuma mau bantu, Pak…”

Anehnya, bantuan mereka selalu lengkap:
tukang sudah ditentukan,
pasir sudah dipilih,
cat tembok sudah ada mereknya,
sampai warna keramik toilet pun sudah diputuskan.

Sekolah tinggal menyediakan stempel dan kopi panas.

Di ruang guru, suasana makin absurd.
“Pak, kenapa tukangnya tidak ambil orang kampung sini?” tanya seorang guru.

Kepala sekolah menarik napas panjang.

“Katanya tukang lokal kurang berpengalaman…”

“Memangnya yang datang ini tukang profesional?”

“Entahlah… kemarin saya lihat dia masih jual casing HP di pasar.”

Tak lama kemudian, proyek berjalan.
Papan proyek berdiri gagah: “SWAKELOLA SEKOLAH”

Namun semua orang bingung.
Karena yang paling tidak punya kuasa justru pihak sekolah sendiri.

Guru olahraga bahkan bercanda: “Ini bukan swakelola, ini swa-kelola-tapi-orang-lain-yang-atur.”

Warga kampung mulai heran.
Kenapa semen datang tengah malam?
Kenapa pasir lebih dijaga daripada perpustakaan?
Kenapa kepala sekolah mendadak pendiam seperti habis dimarahi mertua?

Suatu hari, seorang penjaga sekolah memberanikan diri bertanya.

“Pak, kenapa bapak selalu gugup kalau ada mobil dobel gardan masuk?”

Kepala sekolah menatap langit.
“Nak… dulu saya takut murid tidak naik kelas. Sekarang saya takut salah pilih toko cat.”

Yang paling kasihan sebenarnya bendahara sekolah.

Setiap malam ia membuka kalkulator sambil istighfar.

“Ini harga paku kenapa seperti harga emas?”
Namun karena semua orang sama-sama takut dianggap “tidak mendukung program”, akhirnya semua memilih senyum.

Senyum yang sangat administratif.
Lucunya lagi, semua pihak selalu mengaku paling peduli pendidikan.
Padahal yang diperjuangkan kadang bukan ruang kelas, melainkan siapa yang pegang proyek.

Anak-anak sekolah tetap santai.
Mereka tidak peduli siapa pemasok keramik.
Yang penting atap tidak bocor saat ulangan matematika.

Mereka cuma ingin meja belajar tidak goyang seperti kursi warung kopi.

Di akhir cerita, seorang guru tua berkata pelan di ruang rapat:
“Kalau terlalu banyak yang ikut mengatur, sekolah bisa lupa caranya mandiri.”
Semua terdiam.

Kecuali kipas angin yang tetap bunyi: “krieeettt… krieeettt…”
Mungkin itu satu-satunya suara jujur di ruangan tersebut.

Ket: Tulisan ini sifatnya hanya hiburan… Semoga semua terhibur….. (Menempel Kaya Perangko)

Penulis: Yusuf Buraerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *