“Swakelola: Yang Sekolah yang Nonton, Yang Luar yang Panen Setir Mobil Baru”

Hiburan – Di sebuah sekolah yang lagi semangat-semangatnya menunggu dana revitalisasi, kabar gembira datang seperti pengumuman pembagian sembako: dana swakelola turun!

Kepala sekolah langsung semangat. Guru-guru mulai membayangkan kelas baru yang tidak lagi atapnya “punya jadwal jatuh sendiri”. Anak-anak juga sudah membayangkan duduk di kursi yang tidak lagi bunyinya “krek-krek” setiap gerakan.

Tapi suasana berubah ketika datang “tim dari luar”. Mereka datang dengan rapi, map tebal, dan satu jurus andalan:
“Biar kami yang kerjakan, Pak. Ini sudah standar nasional… bahkan internasional.”

Kepala sekolah sempat mau ikut mengawasi, tapi langsung disambut: “Tidak usah, Pak. Bapak fokus saja di administrasi. Ini kami yang turun lapangan.”

Akhirnya kepala sekolah pun resmi naik jabatan tidak resmi: penonton proyek di sekolah sendiri.
Hari pertama: rapat koordinasi. Hari kedua: rapat pemantapan. Hari ketiga: rapat evaluasi rapat. Hari keempat: foto dokumentasi. Hari kelima: tanda tangan laporan.

Sementara di lapangan, tukang asli cuma muncul sesekali, itu pun lebih sering ditanya: “Pak, ini sebenarnya kita kerja atau nunggu arahan?”

Jawabannya: “Menunggu arahan yang sedang dirapatkan.”

Proyek pun akhirnya selesai… di atas kertas.
Di laporan, semua sempurna:
Ruang kelas: selesai 100%
Toilet: siap pakai (versi PDF)
Atap: anti bocor (versi PowerPoint)
Tapi di lapangan, ada kelas yang masih “berangin alami”, dan pintu yang kalau ditutup masih punya hubungan emosional dengan angin luar.

Puncaknya, datang kabar yang bikin satu sekolah diam seribu bahasa:
“Pengelola luar sudah beli mobil baru.”
Bukan mobil biasa, tapi mobil yang kalau parkir bisa bikin plang proyek minder.

Guru pun berbisik: “Pak, kita dapat apa dari proyek ini?”

Kepala sekolah tersenyum tipis: “Kita dapat ilmu baru.”

“Ilmu apa, Pak?”

“Ilmu… cara menonton pekerjaan di tempat sendiri.”

Sementara itu, mobil baru tadi sudah jalan-jalan entah ke mana, mungkin lagi “uji coba operasional”.

Dan sekolah pun kembali tenang, dengan satu kenyataan yang kini jadi bahan candaan di ruang guru:
“Swakelola itu ternyata bukan kita yang kelola… tapi kita yang ikut acara.”

“Salam redaksi 01”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *