BULUKUMBA, KOSONGSATUNEWS.COM, – Peristiwa tenggelamnya seorang siswi SMA Negeri 4 Bulukumba di kawasan wisata Apparalang, Kecamatan Bonto Bahari, menyisakan duka mendalam bagi keluarga, teman sekolah, dan masyarakat luas.
Kejadian yang terjadi pada Minggu (7/6/2026) sekitar pukul 14.30 WITA itu kini menjadi sorotan publik dan memunculkan tuntutan evaluasi serius terhadap standar keselamatan di lokasi wisata alam berisiko tinggi.
Korban diketahui bernama Elmi Febrianti (17). Berdasarkan sejumlah laporan, korban diduga tersapu ombak saat berada di sebuah spot foto berbahan kayu yang menjorok ke arah laut di kawasan tebing Apparalang.
Lokasi tersebut memang dikenal memiliki panorama yang indah, namun berada tepat di atas perairan dengan gelombang yang sewaktu-waktu dapat menghantam area tebing.
Yang membuat peristiwa ini memilukan adalah fakta bahwa korban masih sempat terlihat berusaha menyelamatkan diri.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, korban tampak beberapa kali mengangkat tangan meminta pertolongan sambil berusaha bertahan di tengah hempasan ombak. Namun derasnya arus dan keterbatasan sarana penyelamatan membuat upaya pertolongan tidak dapat dilakukan secara cepat.
Video tersebut kemudian memicu diskusi luas di masyarakat. Banyak pihak mempertanyakan kesiapan pengelola wisata dalam menghadapi kondisi darurat, mulai dari ketersediaan pelampung, ban penyelamat, tali evakuasi, hingga petugas keselamatan yang siaga di titik-titik rawan.
Kritik juga muncul karena pada saat kejadian tidak terlihat adanya peralatan penyelamatan yang dapat segera digunakan untuk membantu korban.
Tragedi ini memunculkan pertanyaan penting. Apakah destinasi wisata yang memiliki risiko tinggi sudah dilengkapi standar keselamatan yang memadai?
Keindahan alam memang menjadi daya tarik utama Apparalang, namun keselamatan pengunjung seharusnya menjadi prioritas yang tidak boleh dikalahkan oleh aspek wisata semata.
Banyak pemerhati keselamatan menilai, dalam kondisi seperti yang dialami korban, keberadaan alat sederhana seperti pelampung atau ban penyelamat dapat menjadi faktor penentu.
“Seandainya tersedia dan dapat segera dilemparkan ke arah korban, peluang penyelamatan tentu akan lebih besar” ungkap salah satu sumber media ini pada Senin, 8 Juni 2026.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD, aparat keamanan, dan masyarakat setempat langsung melakukan pencarian setelah menerima laporan.
Pencarian berlangsung hingga malam hari dan sempat terkendala gelombang laut yang cukup tinggi. Korban akhirnya ditemukan pada Senin dini hari sekitar pukul 00.10 WITA dalam kondisi meninggal dunia, sekitar 1,5 kilometer dari lokasi awal kejadian.
Pasca kejadian tersebut, sejumlah elemen masyarakat, termasuk organisasi mahasiswa, mendesak adanya investigasi dan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan di kawasan wisata Apparalang.
Mereka meminta agar insiden serupa tidak kembali terulang dan menjadi perhatian serius bagi seluruh pengelola objek wisata di Sulawesi Selatan maupun Indonesia.
Tragedi Apparalang hendaknya menjadi pelajaran berharga.
Setiap destinasi wisata yang berhadapan langsung dengan laut, tebing, sungai, atau area berisiko lainnya wajib memiliki prosedur keselamatan yang jelas, peralatan penyelamatan yang mudah dijangkau, papan peringatan yang memadai, serta petugas yang terlatih menghadapi keadaan darurat.
Duka atas kepergian Elmi Febrianti tidak akan mampu mengembalikan waktu.
Namun dari peristiwa yang menyayat hati ini, ada harapan agar lahir kesadaran bersama bahwa keselamatan pengunjung bukan sekadar pelengkap destinasi wisata, melainkan sebuah kewajiban yang harus dipenuhi.
Karena satu nyawa yang hilang sudah cukup menjadi pengingat bahwa keindahan wisata tidak boleh mengalahkan pentingnya perlindungan terhadap keselamatan manusia.
Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan semoga kejadian serupa tidak pernah terulang kembali.(Yusuf Buraera)

















