SINJAI, kosongsatunews.com – Setelah muncul sorotan mengenai operasional pabrik pengolahan porang di Kabupaten Sinjai, penanggung jawab perusahaan, Alling, kembali memberikan tanggapan. Kali ini, ia tidak hanya menjelaskan kondisi perusahaan, tetapi juga menyampaikan pandangannya terhadap maraknya pemberitaan yang mengulas pabrik tersebut.
Dalam sejumlah pesan yang dikirimkan kepada wartawan pada Senin (8/6/2026), Alling mengaku merasa heran dengan banyaknya perhatian yang diberikan terhadap perusahaan yang dipimpinnya.
“Jujur saya bangun pabrik hampir di seluruh Indonesia, cuma Sinjai yang paling unik. Kabupaten kecil tapi unik sekali,” tulisnya.
Pernyataan itu muncul setelah sebelumnya perusahaan memberikan klarifikasi terkait berbagai isu yang berkembang, mulai dari dugaan operasional sebelum seluruh fasilitas pendukung siap, persoalan ketenagakerjaan, hingga masalah timbangan yang sempat dikeluhkan pemasok porang.
Meski mengakui perjalanan investasinya di Sinjai tidak selalu mudah, Alling menegaskan dirinya tetap memilih bertahan. Bahkan ia mengaku sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan daerah tersebut karena berbagai tantangan yang dihadapi selama proses pembangunan pabrik.
“Dulu kami hampir angkat kaki dari Sinjai karena keunikannya. Tapi hati saya sudah di Sinjai. Banyak teman, saudara tanpa hubungan darah yang begitu baik kepada saya,” ungkapnya.
Menurut Alling, salah satu alasan utama dirinya mempertahankan investasi tersebut adalah harapan masyarakat yang ingin melihat hadirnya lapangan pekerjaan baru bagi generasi muda.
“Ada harapan dan doa mereka supaya anak cucunya punya pekerjaan lain selain menjadi pelaut, khususnya di wilayah Lappa,” katanya.
Namun di tengah komitmen tersebut, Alling mengaku kecewa karena perusahaan yang dibangunnya terus menjadi bahan pemberitaan.
“Sampai sekarang kami sudah di titik ini, masih saja ada yang membuat berita tentang perusahaan kami. Tapi itulah Sinjai, unik,” ujarnya.
Dalam pesannya, Alling juga melontarkan kritik terhadap sebagian praktik jurnalistik yang menurutnya terkadang lebih mengedepankan narasi dibanding fakta.
“Wartawan itu suka bicara tanpa fakta supaya narasinya panjang dan menarik,” tulisnya.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian tersendiri karena menyentuh langsung profesi wartawan yang selama ini menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap berbagai aktivitas yang berdampak pada kepentingan publik, termasuk investasi dan kegiatan industri.
Di sisi lain, Alling juga menyampaikan apresiasi kepada insan pers yang selama ini mengikuti perkembangan perusahaan porang tersebut.
“Terima kasih untuk teman-teman wartawan yang sampai detik ini masih sibuk memberitakan perusahaan kami dan pabrik kami. Semoga menjadi ladang rezeki buat kalian,” katanya.
Meski demikian, pada bagian lain percakapan, ia mengingatkan agar pemberitaan tetap berpegang pada fakta dan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kalau wartawan asal naik berita tidak sesuai fakta bisa terkena Undang-Undang Pers,” tulisnya.
Ia bahkan menegaskan bahwa selama ini pihak perusahaan lebih memilih menyimak berbagai pemberitaan yang muncul, meskipun menurutnya kesabaran perusahaan memiliki batas.
“Perusahaan kami dari dulu cuma menyimak berita, tapi kesabaran kami mungkin ada batasnya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa di balik dinamika investasi porang di Sinjai, terdapat hubungan yang belum sepenuhnya harmonis antara harapan investor, tuntutan transparansi publik, dan fungsi pengawasan yang dijalankan media.
Di satu sisi, investasi memang diharapkan mampu membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi daerah. Namun di sisi lain, setiap investasi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat juga akan selalu berada dalam ruang pengawasan publik. Di sinilah pentingnya komunikasi yang terbuka, klarifikasi yang cepat, dan penyampaian informasi yang dapat diverifikasi oleh semua pihak.
Karena pada akhirnya, kepercayaan tidak hanya dibangun melalui mesin yang beroperasi atau bangunan pabrik yang berdiri megah, melainkan juga melalui keterbukaan informasi, kepastian bagi pekerja, perlindungan lingkungan, serta kemauan semua pihak untuk menerima kritik sebagai bagian dari proses perbaikan bersama. (Yusuf Buraerah)

















