SINJAI, kosongsatunews.com – Angka pertumbuhan ekonomi sering kali menjadi kabar yang paling dinanti dalam setiap laporan pembangunan. Ketika grafik bergerak naik dan persentase menunjukkan tren positif, optimisme pun menguat. Daerah dianggap berkembang, roda ekonomi dinilai berputar semakin cepat, dan berbagai capaian pembangunan tampak semakin meyakinkan.
Namun, bagi Ahmad Suhaemi, salah seorang tokoh birokrasi Kabupaten Sinjai, pembangunan tidak boleh berhenti pada kebanggaan terhadap angka-angka statistik semata. Di balik pertumbuhan ekonomi yang tinggi, terdapat pertanyaan yang jauh lebih penting untuk dijawab: apakah masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya?
Dalam ulasannya yang berjudul “Pertumbuhan Ekonomi yang Tak Sampai ke Dapur”, Ahmad Suhaemi mengajak publik melihat pembangunan dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sinjai pada Triwulan I Tahun 2026 yang mencapai 11,14 persen memang merupakan capaian yang patut diapresiasi. Namun angka tersebut tidak boleh membuat semua pihak terlena. Sebab, keberhasilan pembangunan sejatinya tidak hanya diukur dari seberapa tinggi ekonomi tumbuh, tetapi juga dari seberapa luas manfaatnya dirasakan oleh rakyat.
“Apakah rakyat ikut tumbuh bersamanya?” tulis Ahmad Suhaemi, mengawali refleksinya terhadap capaian ekonomi daerah.
Pertanyaan itu menjadi penting karena kenyataan yang dirasakan masyarakat sering kali berbeda dengan yang terlihat dalam laporan statistik. Di ruang-ruang rapat, pertumbuhan ekonomi hadir dalam bentuk grafik dan persentase. Namun di pasar, masyarakat berhadapan dengan harga kebutuhan pokok yang terus meningkat. Di kebun dan sawah, petani menghadapi ketidakpastian harga hasil panen. Sementara di rumah-rumah warga, keluarga harus berjuang menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang tidak selalu bertambah.
Menurutnya, inflasi yang terus menekan daya beli masyarakat menjadi salah satu tantangan nyata yang tidak boleh diabaikan. Ketika biaya hidup meningkat lebih cepat dibanding pendapatan, maka pertumbuhan ekonomi yang tercatat dalam statistik belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan masyarakat.
Ahmad Suhaemi menyinggung pengalaman Provinsi Maluku Utara yang pada tahun 2022 mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 26,94 persen, salah satu yang tertinggi di Indonesia saat itu.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh pesatnya investasi dan aktivitas industri hilirisasi nikel. Nilai ekonomi meningkat tajam, namun pada saat yang sama muncul pertanyaan tentang sejauh mana manfaat pertumbuhan tersebut dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Dari pengalaman itulah, menurutnya, terdapat pelajaran penting yang patut menjadi bahan refleksi bagi setiap daerah, termasuk Kabupaten Sinjai.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang merata. Sebuah daerah bisa mencatat angka pertumbuhan yang mengesankan, tetapi masih menghadapi persoalan ketimpangan dan distribusi manfaat pembangunan.
Lanjut, Ahmad Suhaemi menegaskan bahwa tujuan pembangunan tidak boleh sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperluas kesempatan kerja, memperkuat daya beli, dan menciptakan kesejahteraan yang dapat dirasakan secara nyata.
Pemerataan, menurutnya, menjadi kata kunci yang tidak boleh ditinggalkan. Petani harus memperoleh nilai yang layak dari hasil produksinya. Nelayan harus menikmati pendapatan yang lebih baik. Pelaku usaha mikro dan kecil harus mendapatkan ruang untuk berkembang. Sementara masyarakat secara umum harus merasakan adanya perubahan positif dalam kehidupan mereka.
Sebab pada akhirnya, rakyat tidak hidup di dalam tabel statistik. Mereka hidup dalam kenyataan sehari-hari.
Masyarakat tidak mengukur keberhasilan pembangunan dari angka pertumbuhan ekonomi yang diumumkan pemerintah. Mereka mengukurnya dari harga kebutuhan pokok, peluang kerja, pendapatan keluarga, dan kemampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Dengan bahasa yang lugas dan menyentuh, Ahmad Suhaemi menutup ulasannya dengan sebuah refleksi yang kuat.
Ketika pertumbuhan ekonomi dipuji sementara dapur rakyat masih berjuang untuk tetap mengepul, maka yang sesungguhnya tumbuh bukanlah kesejahteraan, melainkan jarak antara keberhasilan yang dilaporkan dan kenyataan yang dirasakan masyarakat.
Sebuah pengingat bahwa pembangunan yang berhasil bukan hanya yang terlihat baik dalam laporan, tetapi yang mampu menghadirkan ketenangan dan harapan di setiap rumah tangga rakyat.(Yusuf Buraerah)


















