SINJAI, kosongsatunews.com – Pagi itu, Senin, 4 Mei 2026, halaman UPT SMA Negeri 12 Sinjai, Kelurahan Sangiaseri, Kecamatan Sinjai Selatan, tak sekadar menjadi ruang upacara. Ia menjelma panggung kecil tempat makna pendidikan dipanggungkan ulang, dalam sunyi yang khidmat, dalam barisan rapi para siswa berseragam putih, dan dalam kibaran merah putih yang perlahan naik mengikuti irama lagu kebangsaan.
Upacara penaikan bendera dirangkai peringatan Hari Pendidikan Nasional ini dipimpin langsung oleh Kepala UPT, Abdul Waris. Dengan suara yang tenang namun tegas, ia menyampaikan amanat yang tak hanya formalitas tahunan, melainkan refleksi atas perjalanan pendidikan yang masih panjang dan berliku.
Tema nasional tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, terasa menggema lebih jauh dari sekadar slogan. Ia seperti mengetuk kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah, bukan pula beban guru semata. Ada peran orang tua, masyarakat, bahkan negara, yang semestinya berpadu dalam satu tarikan napas yang sama.

Di sudut lapangan, para petugas upacara dari kalangan siswa menjalankan tugas dengan presisi. Pengibaran bendera berlangsung tanpa cela, sebuah simbol kecil tentang disiplin dan tanggung jawab yang terus ditanamkan. Sementara itu, para guru berdiri menyimak, sebagian dengan tatapan menerawang, seolah memikirkan pekerjaan rumah besar bernama mutu pendidikan.
Dalam amanatnya, Abdul Waris menyinggung pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia tak menampik bahwa tantangan pendidikan hari ini kian kompleks, dari ketimpangan akses hingga kualitas pembelajaran yang belum merata. Namun di tengah itu, ia menegaskan satu hal: perubahan hanya mungkin terjadi jika semua pihak terlibat.
“Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan partisipasi semesta,” Ungkapnya.

Di luar pagar sekolah, realitas memang tak selalu seideal tema. Masih ada sekolah dengan keterbatasan fasilitas, masih ada siswa yang berjuang menembus jarak dan keadaan. Namun justru dari ruang-ruang sederhana seperti halaman UPT SMA Negeri 12 Sinjai inilah optimisme itu dirawat pelan, tapi pasti.
Upacara usai, barisan dibubarkan. Siswa kembali ke kelas, guru kembali pada rutinitas. Tapi ada yang tertinggal di udara pagi itu: sebuah pengingat bahwa pendidikan adalah kerja panjang, yang tak cukup dirayakan setahun sekali.
Dan mungkin, di situlah letak maknanya bahwa setiap upacara bukanlah akhir, melainkan awal dari komitmen yang harus terus diperbarui.(Yusuf Buraerah)




