Masyarakat Kesulitan Menperoleh BBM, Dugaan Mafia BBM Bercokol di SPBU

KOSONGSATUNEWS.COM, SULBAR, — Masyarakat yang berhak atas BBM subsidi di wilayah Sulawesi Barat (Sulbar) kesulitan menperoleh Bahan Bakar Minyak ( BBM ) khususnya jenis bio solar. Hal ini adanya mafia BBM yang diduga bekerja sama dengan pihak SPBU.

Modus penyalahgunaan BBM dengan sistem “langsir” adalah praktik membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara berulang-ulang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk kemudian ditimbun atau dijual kembali dengan harga non-subsidi.

Sumber diperoleh media ini menyebutkan, ada beberapa pelaku mafia atau penimbun BBM bersubsidi di Kabupaten Polman, Majene dan Mamuju. Salah satu penimbun berskala besar di wilayah Sulbar yakni seorang wanita berinisial Hj. Per.

Dalam praktek penyalahgunaan BBM bersubsidi jenis bio solar kata sumber yang tidak mau dipublikasikan identitasnya menyebutkan, Hj. Per bekerja sama dengan oknum petugas SPBU yang membiarkan pengisian berulang atau melebihi kuota harian.

la mengatakan, pelaku sering menggunakan puluhan barcode atau akun aplikasi yang berbeda-beda agar bisa mengisi BBM berulang kali di SPBU yang sama maupun berbeda dalam satu hari.

Setelah mendapatkan BBM di satu SPBU, pelaku langsung menuju tempat penampungan untuk mengosongkan tangki, kemudian lakembali lagi ke PBU untuk mengantre.

Modus tersebut merupakan kerja sama yang rapi antara Hj. Per dengan pihak SPBU.

Dari kerja sama ini, Hj. Per membeli bio solar dari pihak melebihi SPBU jauh dari harga ya g di tetapkan. Untuk satu jerigen isi 33 liter, Pet membayar seharga Rp. 340.000 per liter. Hj. Per yang berusaha di konfirmasi tidak berada di tempat.

Sementara pihak SPBU yang berada di daerah Tappalang Kabupaten Mamuju, yang diduga turut bekerja sama dengan HjmOer dalam melakukan penyalahgunaan BBM subsidi, dibantah oleh Toni, pemilik SPBU Tappalang.

Melalui pesan WhatsApp pada Kamis, 7 Mei 2026, Toni membantah melakukan kerja sama dengan penimbun BBM.

“Tabe pak, solar di sini masuk seminggu sekali dan jatah hanya 8 ton. Jadi tidak mungkin bisa seperti itu,” pesan singkat Toni via WhatsApp. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *