SINJAI, kosongsatunews.com – Suasana Aula Serbaguna Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sinjai, Senin pagi, 18 Mei 2026, tampak berbeda dari biasanya. Puluhan anak taman kanak-kanak dan siswa sekolah dasar duduk bersila sambil memegang buku cerita. Di sudut ruangan, sejumlah pegiat literasi berbincang tentang masa depan budaya baca yang perlahan berubah wajah: dari lembaran kertas ke layar telepon genggam.
Momentum itu menjadi penanda peluncuran dua buku digital baru oleh Dispusip Sinjai dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-46 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Hari Buku Nasional 2026, sekaligus Hari Kearsipan. Dua karya yang diperkenalkan ialah Buku Digital IPussinjai dan Buku Cerita Rakyat Sinjai.
Kepala Dispusip Sinjai, Abdul Azis, menyebut peluncuran tersebut bukan sekadar penambahan koleksi perpustakaan, melainkan bagian dari upaya memperluas akses pengetahuan masyarakat di tengah perubahan zaman yang serba digital.
Menurutnya, transformasi layanan perpustakaan menjadi kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda. Kehadiran IPussinjai, kata dia, memungkinkan masyarakat membaca buku kapan saja dan di mana saja hanya melalui gawai mereka.
“Ini menjadi bukti bahwa kita memiliki potensi dan kemampuan yang dapat berguna bagi pembangunan pengetahuan masyarakat Sinjai,” ujar Abdul Azis di hadapan peserta kegiatan.
Di balik peluncuran itu, terselip kegelisahan yang sama seperti yang dirasakan banyak daerah lain: budaya tutur dan cerita rakyat perlahan memudar di tengah derasnya arus informasi digital. Karena itu, kehadiran Buku Cerita Rakyat Sinjai menjadi penting, bukan hanya sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai upaya menyelamatkan memori kolektif masyarakat lokal.

Penulis buku tersebut, Zainal Abidin Ridwan, mengatakan karya yang disusunnya merangkum kisah-kisah lama yang selama ini hidup dari mulut ke mulut. Banyak di antaranya, menurut dia, belum pernah terdokumentasi secara memadai, baik dalam bentuk rekaman video maupun cetakan.
“Buku ini adalah bagian dari upaya memunculkan kembali rekaman masa lalu yang belum sempat didokumentasikan,” katanya.
Langkah digitalisasi itu dinilai sebagai strategi yang cukup realistis. Di satu sisi, pemerintah daerah ingin meningkatkan minat baca masyarakat. Di sisi lain, generasi muda yang tumbuh bersama internet membutuhkan medium yang lebih dekat dengan kebiasaan mereka.
Peluncuran buku digital tersebut kemudian ditutup dengan kegiatan membaca bersama anak-anak TK dan SD. Suasana aula berubah riuh ketika dongeng mulai dipentaskan. Anak-anak mengikuti senam literasi, sementara di sisi lain pameran buku menghadirkan berbagai bacaan yang bisa diakses masyarakat.
Di tengah kekhawatiran menurunnya minat baca, kegiatan sederhana itu seperti ingin menyampaikan satu pesan: perpustakaan tak lagi hanya ruang sunyi penuh rak buku, melainkan ruang baru tempat pengetahuan, teknologi, dan ingatan budaya dipertemukan.(Yusuf Buraerah)





