SINJAI, kosongsatunews.com — Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Sinjai pada dini hari pekan lalu kembali menyingkap persoalan lama yang tak kunjung menemukan ujung penyelesaian: banjir di pusat kota. Saat sebagian warga masih terlelap, air perlahan menggenangi sejumlah ruas jalan. Menjelang pagi, kawasan Alun-alun Sinjai berubah menjadi titik paling parah terdampak genangan.
Kendaraan yang melintas terpaksa memperlambat laju. Air menutup sebagian badan jalan, sementara saluran drainase tampak tidak mampu menampung debit hujan yang turun selama beberapa jam. Warga sekitar menyebut kawasan Alun-alun memang kerap menjadi titik kumpul air karena posisinya yang lebih rendah dibanding wilayah di sekitarnya.
Di tengah genangan yang kembali berulang itu, sorotan mengarah pada anggaran sekitar Rp600 juta pada tahun 2024 yang disebut digunakan untuk kerja sama kajian sistem drainase Kota Sinjai bersama pihak akademisi dari UNHAS. Anggaran tersebut kini dipertanyakan efektivitasnya setelah banjir masih terus terjadi di sejumlah titik.
Kritik keras datang dari, Petta Tujuh Daeng Mattayang, nama sumber disamarkan. Melalui pernyataannya, ia menyindir kondisi banjir yang menurutnya terus menjadi rutinitas tahunan tanpa solusi nyata.
“Sinjai tergenang air itu lagu lama yang sudah populer. Yang tidak populer itu anggaran Rp 600 juta kerja sama UNHAS tentang sistem drainase Kota Sinjai. Apa hasilnya… banjir, banjir, banjir,” tulisnya, Selasa, 19 Mei 2024.
Pernyataan tersebut jelas memantik reaksi publik. Sebagian warga menilai sindiran itu mewakili keresahan masyarakat yang selama ini mempertanyakan sejauh mana hasil kajian drainase diterapkan dalam pembangunan dan penataan kota.
Sebab bagi warga, anggaran ratusan juta semestinya melahirkan perubahan nyata, terutama dalam mengurangi titik-titik genangan yang setiap musim hujan selalu menjadi keluhan masyarakat. Namun kondisi di lapangan menunjukkan persoalan drainase masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.
Sejumlah warga juga menilai persoalan banjir di Sinjai tidak hanya disebabkan curah hujan tinggi, tetapi juga berkaitan dengan kapasitas drainase yang dianggap tidak lagi seimbang dengan perkembangan kawasan perkotaan. Pertumbuhan bangunan dan minimnya area resapan air disebut memperparah kondisi ketika hujan turun dalam intensitas tinggi pada dini hari.
Hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai implementasi hasil kerja sama kajian drainase tersebut. Publik pun mulai mempertanyakan apakah rekomendasi yang dihasilkan telah dijalankan secara bertahap atau masih berhenti pada tataran dokumen perencanaan.
Bagi masyarakat Sinjai, banjir bukan lagi sekadar persoalan musiman. Ia telah berubah menjadi simbol dari harapan yang belum sepenuhnya terjawab. Dan ketika Alun-alun kembali tergenang setelah anggaran besar digelontorkan untuk kajian drainase, pertanyaan publik pun terdengar semakin nyaring: sebenarnya apa yang sudah berubah?(Yusuf Buraearah)



















