Pulang dari Gaza: As’ad Aras Muhammad dan Cerita yang Tertinggal di Palestina

JAKARTA, kosongsatunews.com — Ruangan itu tidak tampak seperti tempat lahirnya sebuah kisah besar. Hanya sebuah meja rapat sederhana, beberapa botol minuman, kudapan ringan, dan percakapan yang mengalir tenang. Namun dari ruangan sederhana itulah tersimpan cerita panjang tentang perang, kemanusiaan, dan kepulangan seorang putra daerah Sinjai dari salah satu wilayah paling bergolak di dunia: Gaza, Palestina.

Pertemuan tersebut berlangsung di sekretariat Spirit Of Aqsa, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu malam, 24 Mei 2026. Dalam suasana hangat itu, Bupati Sinjai, Ratnawati Arif, berbincang bersama Kepala Dinas Pendidikan Sinjai, Irwan Suaib, dengan seorang pria muda bernama As’ad Aras Muhammad.

As’ad merupakan warga Kecamatan Sinjai Utara yang baru kembali ke Indonesia setelah menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza bersama armada Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, jaringan relawan internasional yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina. Informasi mengenai keterlibatan As’ad dalam misi tersebut sebelumnya ramai diberitakan sejumlah media nasional dan regional.

Kisah As’ad menyita perhatian publik bukan hanya karena ia berasal dari daerah kecil di pesisir Sulawesi Selatan, tetapi juga karena namanya sempat masuk dalam daftar relawan Indonesia yang dilaporkan ditahan oleh militer Israel saat armada kemanusiaan menuju Gaza dicegat di Laut Mediterania.

Dalam laporan yang beredar sebelumnya, Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyebut kapal yang membawa sejumlah relawan, termasuk As’ad, mengalami intersep oleh angkatan laut Israel. Komunikasi para relawan bahkan sempat terputus setelah sinyal darurat SOS dikirimkan dari kapal.

Ibunda As’ad, Rabia, juga sempat mengungkapkan bahwa keluarganya kehilangan kontak dengan As’ad setelah kapal yang ditumpanginya diadang di wilayah perairan dekat Gaza.

Di tengah konflik Palestina-Israel yang terus menjadi perhatian dunia, kisah seorang warga daerah yang terseret langsung dalam pusaran perang, menghadirkan daya getar tersendiri. Gaza selama bertahun-tahun menjadi simbol krisis kemanusiaan global: serangan udara, blokade panjang, runtuhnya fasilitas kesehatan, hingga pengungsian massal menjadi potret yang terus muncul dalam laporan internasional.

Dalam pertemuan itu, As’ad tampak duduk tenang. Di pundaknya melingkar syal bermotif keffiyeh, simbol yang lekat dengan perjuangan Palestina. Sesekali ia tersenyum kecil saat berbincang dengan pejabat daerah. Tetapi di balik ketenangan tersebut, publik tentu bertanya-tanya: pengalaman seperti apa yang sebenarnya ia bawa pulang dari Gaza?

Bagi banyak relawan internasional, Gaza bukan sekadar wilayah konflik, melainkan ruang kemanusiaan yang nyaris tanpa jeda. Distribusi pangan, bantuan medis, pendidikan darurat, hingga pendampingan korban sipil menjadi pekerjaan sehari-hari yang harus dilakukan di bawah ancaman keamanan yang tidak menentu.

Relawan kemanusiaan di wilayah itu sering menghadapi pemeriksaan ketat, pembatasan mobilitas, bahkan risiko penahanan. Pengalaman As’ad menjadi penanda bahwa konflik global ternyata dapat menyentuh langsung warga dari daerah yang jauh dari pusat geopolitik dunia.

Pertemuan di sekretariat Spirit Of Aqsa itu pun dapat dibaca sebagai bentuk penghormatan moral terhadap misi kemanusiaan yang dijalankan seorang putra daerah. Indonesia selama ini dikenal memiliki solidaritas kuat terhadap Palestina. Dukungan itu tidak hanya muncul melalui aksi demonstrasi dan penggalangan bantuan, tetapi juga lewat keterlibatan relawan kemanusiaan di wilayah konflik.

Warga “Bumi Panrita Kitta”, sebutan lain Kabupaten Sinjai, turut menaruh perhatian besar terhadap kisah As’ad. Sebagian mengaku bangga karena ada warga Sinjai yang terlibat dalam misi kemanusiaan internasional. Sebagian lain mempertanyakan mekanisme keberangkatan relawan ke wilayah perang dan sejauh mana perlindungan negara terhadap warga Indonesia yang berada di zona konflik aktif.

Kementerian Luar Negeri RI sendiri selama ini berulang kali mengingatkan warga negara Indonesia agar berhati-hati memasuki wilayah konflik tanpa koordinasi resmi karena situasi keamanan di Gaza sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Namun di luar seluruh perdebatan itu, kisah As’ad menyisakan satu kenyataan yang sulit dibantah: perang selalu melahirkan cerita manusia. Dan kadang, cerita itu pulang diam-diam ke kampung halaman, dibawa seseorang yang sebelumnya hanya dikenal sebagai warga biasa.

Kini, setelah kembali ke Indonesia, As’ad memilih duduk tenang di sebuah ruangan sederhana di Tebet, Jakarta Selatan. Tetapi mungkin saja, sebagian ingatannya masih tertinggal di Gaza di antara suara sirene, reruntuhan bangunan, dan wajah-wajah warga sipil yang terus bertahan hidup di tengah perang yang belum menemukan ujungnya.(Ucup)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *