SINJAI, kosongsatunews.com – Di balik rimbunnya pepohonan Desa Talle, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai, tersimpan sebuah gagasan besar yang sedang dirintis perlahan. Namanya Hutan Lajangnge. Kawasan hutan yang selama ini dikenal sebagai daerah resapan air dan penyangga kehidupan masyarakat itu kini mulai diproyeksikan menjadi pusat usaha terpadu berbasis pala, madu trigona, dan ekowisata.
Gagasan itu memang masih berada pada tahap perencanaan. Namun, arah yang dibangun terlihat mulai disusun dengan cukup serius. Di tengah wacana pemekaran Desa Talle dan lahirnya Desa Lajangnge sebagai desa baru, keberadaan hutan tersebut dianggap dapat menjadi fondasi ekonomi utama agar desa hasil pemekaran nantinya tidak sekadar berdiri secara administratif, tetapi juga mampu mandiri secara ekonomi.
“Ini baru rencana dasar pengembangan usaha yang nantinya akan ditawarkan sebagai bentuk kerja sama,” kata Irwan, salah satu penggagas konsep pengembangan kawasan tersebut, dalam percakapan yang diterima media ini, Minggu malam, 25 Mei 2026.
Konsep yang disusun bukan sekadar pengembangan perkebunan biasa. Mereka membayangkan sebuah kawasan terpadu: pohon pala tumbuh produktif di lereng hutan, sementara di setiap batang pala ditempatkan stup madu trigona. Dari situ lahir madu khas dengan aroma dan rasa pala yang unik. Pengunjung nantinya tidak hanya datang menikmati suasana hutan, tetapi juga dapat melihat langsung proses budidaya madu dan mencicipinya di lokasi.

Di atas kertas, konsep itu terdengar seperti perpaduan antara pertanian, konservasi, dan wisata alam. Sebuah model yang belakangan mulai banyak dikembangkan di berbagai daerah karena dianggap mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memberi nilai ekonomi kepada masyarakat sekitar.
Irwan mengungkapkan, saat ini sudah terdapat sekitar 20 ribu tanaman pala di kawasan Lajangnge yang telah berumur kurang lebih tiga tahun. Angka itu menjadi modal awal yang dianggap cukup menjanjikan jika nantinya berhasil dikelola secara terintegrasi.
“Nantinya masing-masing pohon pala akan ada stup madu trigona. Jadi ada ciri khas rasa pala pada madunya,” ujarnya.
Namun jalan menuju mimpi itu masih panjang. Hingga kini, belum ada investor tetap yang bergabung. Pengelola baru membuka ruang kerja sama kepada siapa saja yang memiliki minat untuk terlibat, mengingat kebutuhan modal pengembangan kawasan dinilai cukup besar.
Di tengah keterbatasan itu, semangat yang dibangun justru tampak bertumpu pada potensi lokal. Hutan Lajangnge tidak hanya dipandang sebagai kawasan hijau biasa, melainkan simbol masa depan desa. Sebuah kawasan yang ingin dijaga, sekaligus diolah tanpa kehilangan identitas ekologinya.
Narasi itu juga diperkuat dengan keberadaan papan informasi besar di kawasan hutan yang menjelaskan nilai historis, ekologis, hingga sosial budaya Hutan Lajangnge. Dalam papan tersebut disebutkan bahwa kawasan itu memiliki fungsi penting sebagai paru-paru wilayah, daerah tangkapan air, hingga bagian dari sejarah masyarakat setempat.
Di Sinjai Selatan, ide tentang hutan yang tidak ditebang tetapi justru “dipanen manfaatnya” perlahan mulai menemukan bentuk baru. Dan seperti banyak mimpi besar lain di desa-desa, semuanya masih dimulai dari satu hal sederhana: rencana yang sedang dicoba untuk dipercayai bersama.









