SMAN 12 Sinjai dan Jejak ke Gerbang Kedokteran

SINJAI, kosongsatunews.com  – Di sebuah ruang sekolah di UPT SMA Negeri 12 Sinjai, kabar itu datang seperti angin yang pelan-pelan mengubah suasana. Bukan sekadar kelulusan SNBT, tetapi sebuah catatan sejarah kecil untuk pertama kalinya ditorehkan: seorang siswa berhasil menembus program studi Kedokteran.

Kepala sekolah Abdul Waris menyebut momen itu dengan nada syukur. “Alhamdulillah, ini pertama kalinya anak kami lolos Kedokteran,” ujarnya. Di balik kalimat itu, tersimpan perjalanan panjang sekolah yang selama ini bergerak terus mencoba menjaga harapan.

Di tingkat nasional, persaingan SNBT tahun ini kembali memperlihatkan betapa ketatnya ruang masuk perguruan tinggi negeri. Namun dari sudut Sinjai, muncul cerita lain: enam nama yang kini resmi diterima di berbagai kampus negeri, masing-masing membawa cerita perjuangan yang berbeda.

Ahmad Jilan menjadi sorotan tersendiri. Ia diterima di Kedokteran Universitas Sulawesi Barat, sebuah capaian yang tidak hanya dianggap prestasi pribadi, tetapi juga simbol loncatan kualitas pendidikan di sekolah tersebut. Di kelas-kelas yang selama ini mungkin lebih akrab dengan keterbatasan fasilitas dibanding laboratorium lengkap, nama kedokteran itu terasa seperti pintu yang baru saja dibuka.

Sementara itu, Nurul Izza memilih jalur Pendidikan Geografi di Universitas Negeri Makassar (UNM), disusul Nurfarhana Qhairunisa di Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Dua nama ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan masih menjadi jalur yang paling banyak dipilih dan paling diharapkan menjadi fondasi masa depan.

Dari rumpun sains terapan, Muh. Fajri Rahman melangkah ke Peternakan Universitas Hasanuddin (UNHAS), kampus besar yang menjadi tujuan banyak lulusan SMA di Sulawesi Selatan. Dua siswa lainnya, Reyhan Al Dhuhani Noorhasyta dan A. Faiz Hizbullah, memilih jalur vokasi di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), pada bidang Teknik Mesin dan Perawatan Alat Berat.

Jika dilihat sekilas, daftar ini hanyalah deretan nama dan jurusan. Namun bagi sekolah, ini adalah laporan kecil tentang perubahan: bahwa ruang-ruang belajar di SMAN 12 Sinjai mulai menghasilkan spektrum pilihan yang lebih luas, dari pendidikan, teknik, hingga kedokteran.

Abdul Waris menyebut capaian ini sebagai hasil kerja kolektif, guru, staf tata usaha, dan siswa yang perlahan membangun budaya belajar. Tidak ada narasi besar tentang keajaiban, hanya konsistensi yang berjalan pelan namun nyata.

Di balik euforia itu, ada satu catatan yang terasa penting: pendidikan di daerah bukan sekadar soal siapa yang lulus, tetapi bagaimana sebuah sekolah menjaga mimpi agar tetap masuk akal untuk diperjuangkan. Dan tahun ini, untuk SMAN 12 Sinjai, mimpi itu tampaknya sedikit lebih dekat dari sebelumnya.(Yusuf Buraerah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *