Derasnya Banjir Mengoyak Akses dan Harapan Warga Sinjai

SINJAI, kosongsatunews.com — Hujan deras yang mengguyur hampir seluruh wilayah Kabupaten Sinjai sejak dini hari, Kamis (4/6/2026), meninggalkan jejak kerusakan di sejumlah titik. Di Desa Sukamaju, Kecamatan Tellulimpoe, derasnya arus sungai merobohkan sebuah jembatan penghubung yang selama ini menjadi akses vital masyarakat menuju Desa Bua dan Desa Era Baru.

Dari foto yang beredar, badan jembatan tampak patah dan ambruk ke aliran sungai yang berwarna cokelat keruh. Arus yang masih deras terus menghantam sisa konstruksi yang tersisa di kedua sisi sungai. Dalam hitungan jam, jalur yang setiap hari dilalui warga untuk beraktivitas, mengangkut hasil pertanian, hingga mengakses layanan pendidikan dan kesehatan, berubah menjadi titik keterisolasian.

Peristiwa itu terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Sinjai sejak malam hingga menjelang pagi. Debit air sungai meningkat drastis dan menghantam fondasi jembatan hingga tak mampu lagi menahan tekanan arus.

Bencana yang melanda Tellulimpoe tidak berhenti di Desa Sukamaju. Informasi yang dihimpun menyebutkan sejumlah wilayah lain juga terdampak luapan air. Di Desa Lembang Lohe, banjir dilaporkan menggerus areal persawahan milik warga. Hamparan sawah yang sebelumnya menjadi tumpuan harapan petani kini terancam rusak akibat terjangan arus yang membawa material lumpur dan bebatuan.

Bagi para petani, kerusakan sawah berarti ancaman terhadap musim tanam dan hasil panen. Jika endapan lumpur dan material banjir terlalu banyak, bukan hanya tanaman yang rusak, tetapi juga struktur lahan yang membutuhkan waktu dan biaya untuk dipulihkan.

Kondisi tersebut menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi masyarakat pedesaan saat musim hujan tiba. Infrastruktur yang rusak dan lahan pertanian yang terdampak menjadi pukulan ganda bagi ekonomi warga.

Di tengah derasnya arus yang masih mengalir, warga berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan darurat. Selain membuka kembali akses transportasi yang terputus, pendataan terhadap kerusakan lahan pertanian juga dinilai penting agar bantuan dan langkah pemulihan dapat segera dilakukan.

Sementara itu, masyarakat di Kecamatan Tellulimpoe diimbau tetap waspada. Jika hujan dengan intensitas tinggi kembali turun, potensi peningkatan debit air dan kerusakan susulan masih dapat terjadi.

Kini, di Desa Sukamaju, yang tersisa hanyalah ujung-ujung beton yang berdiri di kedua sisi sungai. Di antara gemuruh air yang masih mengalir, warga hanya bisa memandang jembatan yang ambruk itu, simbol rapuhnya infrastruktur saat berhadapan dengan kekuatan alam yang datang tanpa kompromi.(Yusuf Buraerah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *