LSM Gerak Soroti Dugaan Monopoli Pemasok dan Tidak Dilibatkannya Ahli Gizi di SPPG Sumarorong

KOSONGSATUNEWS.COM, MAMASA, – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerak melalui aktivisnya, Andi Waris Tala (AWT), kembali menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

AWT menilai perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan SPPG Sumarorong, mulai dari sistem pengadaan bahan baku, keterlibatan tenaga ahli gizi, hingga kualitas makanan yang disajikan kepada peserta didik.

Menurut AWT, berdasarkan informasi yang diperolehnya, SPPG Sumarorong diduga tidak melibatkan tenaga ahli gizi secara optimal dalam penyusunan maupun pengawasan menu makanan yang diberikan kepada penerima manfaat.

Selain itu, ia juga menyoroti dugaan monopoli pemasok bahan baku di dapur MBG tersebut.

“Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan banyak pemasok untuk memenuhi kebutuhan bahan baku harian seperti beras, telur, ayam, ikan, sayur, buah, bumbu hingga minyak goreng. Namun kami menduga SPPG Sumarorong hanya melibatkan dua supplier saja,” ujar AWT, Selasa, (9/6/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi mengurangi partisipasi pelaku usaha lokal dalam program yang sejatinya dirancang untuk turut menggerakkan ekonomi masyarakat.

AWT juga meminta Aparat Penegak Hukum (APH) melakukan pemeriksaan terhadap pihak mitra dan pemasok yang terlibat dalam operasional SPPG Sumarorong.

“Mitra dan supplier harus diperiksa. Jangan sampai ada dugaan kerja sama khusus di antara mereka yang berpotensi merugikan program dan masyarakat,” tegasnya.

Selain persoalan pemasok, AWT turut menyoroti kualitas menu makanan yang disajikan kepada peserta didik.

Ia menyinggung menu ikan bandeng yang diberikan pada Jumat lalu yang dinilai kurang tepat apabila tidak melalui proses pengolahan yang memadai.

Menurutnya, ikan bandeng dikenal memiliki banyak duri halus sehingga berpotensi membahayakan anak-anak usia dini, terutama peserta PAUD dan siswa sekolah dasar, apabila tidak dibersihkan dan diolah secara baik sebelum disajikan.

“Menu ikan memang baik untuk kebutuhan gizi anak. Namun harus dipastikan aman dikonsumsi, khususnya bagi anak-anak PAUD dan SD. Jangan sampai justru menimbulkan risiko karena pengolahan yang kurang maksimal,” katanya.

AWT mendesak Satgas MBG, Badan Gizi Nasional (BGN), serta instansi terkait untuk segera turun melakukan evaluasi lapangan terhadap operasional SPPG Sumarorong guna memastikan seluruh standar keamanan pangan, kualitas gizi, dan tata kelola program berjalan sesuai ketentuan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola SPPG Sumarorong maupun instansi terkait mengenai berbagai dugaan yang disampaikan tersebut. (Ayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *