Hardiknas di Sinjai: Meriah di Permukaan, Kosong di Kepemimpinan

OPINI, kosongsatunews.com  – Perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, hampir selalu hadir dengan wajah yang semarak. Tahun ini (2026) pun tak berbeda. Dinas Pendidikan setempat menyiapkan rangkaian kegiatan yang terasa akrab: jalan santai, doorprize berlimpah, hingga iming-iming hadiah besar seperti umroh, sebuah pola yang berulang dari tahun ke tahun. Pekan depan, suasana juga akan diramaikan lomba domino yang melibatkan kalangan pendidik dan orang tua siswa.

Di satu sisi, kemeriahan ini memberi ruang kebersamaan. Jalan santai mempertemukan guru, siswa, dan masyarakat dalam suasana cair. Lomba domino menghadirkan keakraban yang jarang tercipta dalam rutinitas sekolah. Hardiknas, dalam wajah seperti ini, tampak sebagai pesta sosial yang menyenangkan.
Namun, seperti perayaan yang terlalu riuh, ada hal-hal penting yang justru tenggelam dalam sorak-sorai.

Di balik panggung hiburan itu, persoalan mendasar pendidikan di Sinjai belum juga menemukan jalan keluar. Puluhan sekolah di daerah ini masih dipimpin oleh pelaksana tugas (Plt), bukan kepala sekolah definitif. Kondisi ini bukan berlangsung seumur “jagung” melainkan sudah bertahun-tahun. Sebuah situasi yang, jika dibiarkan, berpotensi menggerus kualitas tata kelola pendidikan dari hulu.

Kepala sekolah bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah “nahkoda” yang menentukan arah kebijakan sekolah, mulai dari pengelolaan anggaran, pembinaan guru, hingga pengembangan mutu pembelajaran. Ketika posisi ini hanya diisi Plt dalam waktu lama, ada batas kewenangan yang tak bisa dilampaui. Keputusan strategis kerap tertunda, program berjalan setengah hati, dan orientasi jangka panjang menjadi kabur.

Ironisnya, kondisi ini berlangsung di tengah gegap gempita peringatan Hardiknas 2026, hari yang sejatinya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremoni.

Hardiknas seharusnya mengingatkan kembali pada esensi pendidikan: membangun manusia, memperkuat sistem, dan memastikan keberlanjutan kualitas. Jika persoalan kepemimpinan sekolah saja belum terselesaikan, maka perayaan sebesar apa pun berisiko menjadi “kosmetik” indah dilihat, namun rapuh di dalam.

Tentu, tidak ada yang keliru dengan merayakan. Pendidikan juga butuh ruang kegembiraan. Tetapi, kegembiraan tanpa evaluasi hanya akan melanggengkan masalah yang sama dari tahun ke tahun.

Pertanyaannya kemudian sederhana: apakah Hardiknas 2026 di Sinjai akan berhenti sebagai panggung hiburan, atau berani menjadi titik balik pembenahan?

Di tengah hadiah umroh dan riuh lomba domino, jawaban atas pertanyaan itu tampaknya belum benar-benar hadir.

Sinjai, 1 Mei 2026.
Penulis: Muhammad Yusuf Buraearah
(Redaktur Kriminal Kosongsatunews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *