OPINI, kosongsatunews.com – Di negeri ini, kebenaran sering terasa seperti tamu asing. Ia hadir, tetapi tidak disambut hangat. Ia diketahui banyak orang, tetapi sedikit yang berani mengucapkannya keras-keras. Yang lebih sering dipelihara justru kenyamanan, pencitraan, dan kepentingan menjaga wajah tetap tampak bersih di depan publik.
Kita hidup di zaman ketika tampilan lebih menentukan daripada kenyataan. Kamera lebih dipercaya daripada kondisi lapangan. Kata-kata manis lebih mudah diterima dibanding kritik yang jujur. Akibatnya, ruang publik berubah menjadi panggung besar tempat semua orang berlomba terlihat baik, terlihat peduli, dan terlihat bekerja, meski kenyataannya tidak selalu demikian.
Setiap hari masyarakat disuguhi pertunjukan yang nyaris sempurna. Foto-foto kunjungan kerja memenuhi media sosial. Video bantuan sosial diputar berulang-ulang. Pidato tentang keberpihakan kepada rakyat disampaikan dengan suara lantang. Tetapi di balik semua itu, rakyat kecil tetap berjuang menghadapi hidup yang keras. Harga kebutuhan pokok naik perlahan, lapangan pekerjaan makin sulit, dan pelayanan publik sering terasa lamban.
Ironisnya, kritik kini mulai dianggap sebagai ancaman. Orang yang bertanya dianggap melawan. Mereka yang mengingatkan dicurigai punya kepentingan tersembunyi. Padahal dalam demokrasi, kritik bukan musuh negara. Kritik justru tanda bahwa kepedulian masih hidup. Sebab orang yang benar-benar tidak peduli biasanya memilih diam dan membiarkan semuanya berjalan tanpa arah.
Namun budaya diam tampaknya mulai menjadi kebiasaan baru. Banyak orang akhirnya memilih aman. Diam dianggap lebih menguntungkan daripada jujur. Sebab berkata benar hari ini bisa membawa risiko sosial yang tidak kecil. Orang bisa kehilangan jabatan, kehilangan relasi, bahkan kehilangan tempat dalam lingkaran kekuasaan hanya karena menolak ikut berpura-pura.
Kondisi ini melahirkan fenomena yang berbahaya: pujian palsu tumbuh lebih subur daripada kejujuran. Lingkungan di sekitar kekuasaan perlahan dipenuhi orang-orang yang pandai menyenangkan atasan. Yang penting pimpinan tersenyum. Yang penting citra tetap baik. Soal kenyataan di lapangan menjadi urusan belakangan.
Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kekuasaan paling berbahaya adalah kekuasaan yang terlalu banyak dipuji. Ketika semua orang hanya mengatakan “baik,” maka pemimpin kehilangan kesempatan mendengar kenyataan. Kesalahan tidak pernah diperbaiki karena tidak ada yang cukup berani mengatakannya.
Di sinilah pencitraan menemukan panggung terbaiknya. Program dibuat cepat agar bisa diumumkan. Seremoni diperbesar agar terlihat megah. Baliho dipasang di mana-mana agar nama tetap diingat publik. Politik akhirnya berubah menjadi industri penampilan. Yang penting terlihat bekerja, bukan benar-benar menyelesaikan masalah.
Kita menjadi masyarakat yang terlalu mudah terpukau oleh kemasan. Foto makan di warung sederhana langsung dianggap merakyat. Video membagikan bantuan dipuji tanpa bertanya apakah bantuan itu benar-benar menyelesaikan masalah. Empati akhirnya berubah menjadi konten. Kepedulian diukur dari jumlah tayangan dan tepuk tangan. Yang lebih menyedihkan, rakyat perlahan dipaksa terbiasa hidup dalam dua dunia: dunia kenyataan dan dunia pencitraan.
Di televisi dan media sosial semuanya tampak baik-baik saja. Tetapi di pasar, ibu-ibu tetap cemas menghitung uang belanja. Di desa-desa, jalan rusak masih menjadi keluhan lama yang tidak kunjung selesai. Di banyak tempat, masyarakat tetap harus berjuang sendiri menghadapi hidup.
Tetapi suara-suara itu sering tenggelam oleh kebisingan propaganda keberhasilan. Data dipoles agar terlihat indah. Angka-angka diumumkan dengan penuh optimisme. Kritik dibalas dengan narasi pencapaian. Seolah masalah bisa selesai hanya dengan konferensi pers dan slogan.
Padahal kenyataan tidak pernah benar-benar bisa disembunyikan. Rakyat mungkin diam, tetapi mereka merasakan sendiri bagaimana hidup berjalan setiap hari. Mereka tahu mana bantuan yang tulus dan mana yang sekadar kebutuhan kamera. Mereka bisa membedakan mana kerja nyata dan mana pertunjukan politik.
Masalahnya, bangsa ini tampaknya mulai terlalu takut pada kejujuran. Kejujuran dianggap mengganggu stabilitas. Orang yang bicara blak-blakan sering dicap kasar atau tidak tahu etika. Sementara mereka yang pandai menjilat justru dianggap sopan dan loyal.
Akhirnya kita hidup dalam budaya basa-basi yang panjang. Semua orang tersenyum di depan, tetapi menyimpan keluhan di belakang. Semua terlihat akur di panggung, tetapi saling menjatuhkan diam-diam. Semua berbicara tentang rakyat, tetapi sering lupa mendengar suara rakyat yang sebenarnya.
Media sosial memperparah keadaan itu. Kebohongan kini dapat diproduksi massal dalam hitungan menit. Opini dibentuk bukan lewat fakta, melainkan lewat seberapa sering sebuah narasi diulang. Yang paling ramai sering dianggap paling benar. Yang paling viral lebih dipercaya dibanding kenyataan di lapangan.
Di tengah situasi seperti itu, mengatakan kebenaran menjadi tindakan yang terasa mahal. Tidak semua orang siap menerima konsekuensinya. Sebab kejujuran sering datang tanpa tepuk tangan. Ia tidak selalu populer. Bahkan kadang membuat seseorang dijauhi.
Tetapi justru karena itulah kejujuran memiliki nilai yang tinggi. Berkata benar ketika semua orang memilih aman adalah bentuk keberanian moral. Dan keberanian semacam itu kini terasa semakin langka.
Bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai hilang adalah keberanian untuk jujur tanpa menghitung untung-rugi pribadi. Banyak yang tahu ada masalah, tetapi sedikit yang mau bicara. Banyak yang sadar ada penyimpangan, tetapi memilih menjadi penonton.
Padahal sebuah bangsa tidak runtuh hanya karena serangan dari luar. Ia bisa hancur pelan-pelan ketika kebohongan dipelihara menjadi budaya dan kebenaran dianggap ancaman. Ketika kritik dibungkam, saat itulah kesalahan tumbuh tanpa kontrol.
Dan mungkin suatu hari nanti, kita baru sadar bahwa negeri ini bukan kekurangan pidato, bukan kekurangan slogan, dan bukan kekurangan seremoni. Negeri ini hanya terlalu sibuk dipoles, tetapi terlalu sedikit dibenahi.
Sinjai, 28 Mei 2026
Penulis: Muhammad Yusuf Buraearah, SH.
(Redaktur Kriminal Kosongsatunews.com)









