OPINI, kosongsatunews.com – Lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil). Pemerintah menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bertujuan membentuk disiplin, kepemimpinan, integritas, loyalitas, dan semangat bela negara sebelum para peserta bertugas sebagai calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Tidak ada yang mempersoalkan pentingnya disiplin. Tidak ada pula yang menolak nilai-nilai bela negara. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah latihan dasar kemiliteran merupakan metode yang paling tepat untuk membentuk seorang manajer koperasi?
Seorang manajer koperasi dipersiapkan untuk mengelola ekonomi rakyat. Tugasnya menyusun laporan keuangan, mengembangkan usaha, mengelola risiko, membangun jaringan pemasaran, dan meningkatkan kesejahteraan anggota. Kompetensi tersebut lahir dari pendidikan manajemen, tata kelola, kepemimpinan organisasi, dan pemahaman ekonomi kerakyatan, bukan dari kemampuan menjalani latihan fisik bergaya militer.
Pemerintah menyebut Latsarmil berisi pembinaan karakter, Peraturan Baris-Berbaris (PBB), latihan fisik, bela negara, kepemimpinan, kerja sama tim, serta pembentukan mental. Tujuan itu tentu baik. Namun, ketika sebuah program yang ditujukan bagi tenaga profesional sipil justru memunculkan korban jiwa, negara wajib mengevaluasi bukan hanya pelaksanaannya, tetapi juga relevansi konsepnya.
Evaluasi tidak boleh berhenti pada penjelasan bahwa setiap peserta memiliki kondisi kesehatan yang berbeda. Yang lebih penting adalah menjawab apakah desain pelatihan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan jabatan yang akan diemban.
Membangun karakter tidak harus selalu melalui pendekatan semi militer. Dunia pendidikan, organisasi, dan sektor profesional telah lama membuktikan bahwa disiplin, integritas, kepemimpinan, dan tanggung jawab dapat dibentuk melalui pelatihan manajerial, pengabdian masyarakat, simulasi kepemimpinan, hingga pendidikan etika profesi.
Program Koperasi Merah Putih merupakan agenda strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa. Justru karena strategis, setiap kebijakannya harus dirancang berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar simbol ketegasan.
Kematian lima peserta menjadi pengingat bahwa keberhasilan program pemerintah tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang lulus, tetapi juga dari kemampuan negara melindungi keselamatan setiap warga yang mengikuti program tersebut.
Disiplin memang penting. Bela negara juga penting. Tetapi tidak ada tujuan yang lebih tinggi daripada menjaga keselamatan manusia. Sebab negara yang kuat bukan hanya mampu membentuk warga yang disiplin, melainkan juga mampu memastikan mereka pulang dengan selamat.
Redaksi, 28 Juni 2026.
Penulis: Muhammad Yusuf Buraearah, SH.
(Redaktur Kriminal Kosongsatunews.com)



















