Di Antara Kritik dan Dukungan, Pers Menemukan Jiwanya

Editorial, Kosongsatunews.com – Pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi. Julukan itu bukan tanpa alasan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pers memegang peran yang sangat penting, bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pengawas jalannya kekuasaan dan pembangunan.

Ungkapan bahwa “pers tanpa fungsi kontrol ibarat sebuah mobil yang pecah bannya” mengandung makna yang dalam. Mobil dengan ban yang rusak tetap bisa berdiri, tetapi tidak akan mampu berjalan sebagaimana mestinya. Begitu pula pers. Jika kehilangan fungsi kontrol sosialnya, media akan kehilangan salah satu peran utamanya, yaitu mengawasi kebijakan, mengkritisi penyimpangan, serta menyuarakan kepentingan masyarakat.

Namun, fungsi kontrol saja tidak cukup. Pers juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan dukungan terhadap berbagai program yang membawa manfaat bagi masyarakat. Dukungan yang dimaksud bukanlah menjadi corong kekuasaan, melainkan memberikan ruang bagi informasi yang membangun, mengedukasi, dan mendorong optimisme publik.

Di sinilah letak keseimbangan yang kerap dilupakan. Pers yang hanya sibuk mencari kesalahan berisiko terjebak dalam pesimisme. Sebaliknya, pers yang hanya menyiarkan keberhasilan tanpa mengungkap persoalan akan kehilangan independensinya. Kedua sikap tersebut sama-sama menjauhkan pers dari esensi tugasnya.

Jurnalisme yang sehat menempatkan kritik dan dukungan sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kritik diperlukan untuk mengoreksi arah perjalanan bangsa, sementara dukungan dibutuhkan untuk memperkuat setiap langkah yang membawa kemajuan dan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, pers tidak boleh diposisikan sebagai lawan pemerintah, tetapi juga tidak boleh menjadi alat kekuasaan. Pers harus berdiri di tengah, berpihak kepada kepentingan publik, menjunjung kebenaran, dan menjaga jarak yang sama terhadap seluruh kekuatan yang ada.

Tidak berlebihan jika pers disebut sebagai penjaga gawang moral bangsa. Ketika terjadi penyimpangan, pers harus bersuara. Ketika ada prestasi dan inovasi yang layak diapresiasi, pers juga harus hadir untuk menyebarluaskannya. Fungsi kontrol dan fungsi dukungan bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua peran yang saling melengkapi.

Pada akhirnya, pers menemukan jiwanya bukan ketika ia hanya mengkritik atau hanya memuji. Jiwa pers justru lahir dari keberaniannya menjaga keseimbangan: tajam dalam mengawasi, bijak dalam mendukung, dan teguh dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. Dari keseimbangan itulah tumbuh kepercayaan publik, dan dari kepercayaan publik itulah pers memperoleh kekuatan sejatinya.

Redaksi, 2 Juni 2026
Penulis: Yusuf Buraerah, SH.
(Redaktur Kriminal Kosongsatunews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *