Umumnya kata orang, masa remaja adalah masa paling indah. Masa, dimana banyaknya terdapat kenangan atau kejadian-kejadian indah nan menyenangkan. Kenapa ? Karena di masa kita remaja, tanggung jawab pada diri, itu sangat kurang, karena kita banyak menyerahkan ke orang tua. Berbagai kebutuhan, masih dalam tanggungan orang tua. Sedangkan, kita terkesan kurang kontrol diri untuk melakukan sesuatu. Yang penting menyenangkan, maka kita akan melakukannya, dengan perhitungan ada orang tua yang akan membantu kita untuk bertanggungjawab.
Hampir semua keinginan, harus kita dapatkan dan umumnya kita merasa, bahwa orang tua seyogianya harus meluluskan keinginan kita.
Setelah melewati masa remaja, kita sudah berkeluarga, maka berangsur-angsur tanggung jawab penuh pada diri semakin besar, dalam prosesnya. Semua kebutuhan dan keluarga, sepenuhnya tanggung jawab diri. Diri telah malu untuk meminta bantuan orang tua, ataukah orang tua sudah tak ada lagi di dunia ini.
Sesekali, biasanya kita teringat dengan kenangan-kenangan indah di masa remaja. Terkadang, ada hal-hal atau kejadian atau pun kenangan di masa remaja yang ingin kita mengulangnya. Diri berharap kejadian tersebut dapat terulang kembali. Mungkin, kejadian tersebut begitu indah, atau ada hal di dalamnya yang ingin dirasakan kembali, atau pun ada hal di dalamnya yang kita ingin edit kejadiannya, karena banyak kesalahan kita di dalamnya.
Kita sangat menyayangkan, kenapa waktu itu diri berbuat begitu, seharusnya diri berbuat seperti begini dan bukan begitu. Boleh jadi, diri sangat berharap kejadian di masa remaja bisa diulang kembali. Diri pun biasa berharap agar dapat dikembalikan ke masa remaja. Kita biasanya menyesal, kenapa berbuat seperti itu, pada waktu itu. Ingin sekali kita mengedit beberapa proses dalam kejadian itu, walau sebenarnya hal tersebut tidak bisa diulang lagi dan tak dapat diedit lagi sesuai keinginan kita.
Beberapa premist paragraph diatas, tidaklah terlalu keliru, dan mungkin tidaklah berlebihan jika dihubungkan pada saat diri telah berpulang ke rahmatullah. Jangan menunda atau menunggu diri ini dirobohkan, direbahkan lalu dibaringkan dalam sepetak tanah untuk menyesali kelaliman dan kebodohan, tanpa adanya lagi peluang untuk mengulangi. Jasmani telah hancur menjadi tanah, dan tak dapat lagi hidup di dunia untuk mengulang dan memperbaiki segala kesalahan yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
Godaan hawa nafsu di dunia ini, sangat kuat mengiringi langkah-langkah kehidupan kita, disetujui atau dipungkiri, mungkin seperti itulah kenyataannya.
Kita tergoda oleh pujian, mau dibilang hebat, cemburu dan iri hati melihat orang lain lebih pintar dari diri, atau cemburu dan iri hati melihat orang lain lebih berhasil. Atau diri merasa, orang lain tak akan melawan jika kita menyakitinya, karena diri lebih hebat atau lebih jagoan dari orang tersebut.
Mungkin pula, kita berbuat seenak perut/semau gue, karena merasa ada yang membantu kita menyelesaikan persoalan yang nantinya mungkin timbul. Barangkali, kita merasa bahwa diri ini mempunyai jabatan tinggi atau tertinggi, atau ada keluarga yang mempunyai pangkat dan jabatan tinggi, yang berteman pula dengan para penguasa. Sehingga, kita pun terpancing untuk merebut sesuatu dari orang lain dengan menghalalkan segala cara, tanpa memperhitungkan orang lain tersebut tersakiti/sakit hati, ataukah orang banyak mencela perbuatan tersebut, diri tidak mempedulikannya. Yang penting, tujuan dapat diraih, yang lainnya masa bodoh. Seakan dunia ini, adalah tempat kita berlomba untuk saling menyakiti, guna meraih tujuan hidup, yakni kaya, sukses dan berkuasa.
Pemahaman tentang dunia ini bersifat sementara, akan kita tinggalkan, dan akan dipertanggungjawabkan segala perbuatan kita di akherat, telah terlupakan demi meraih kenikmatan dunia. Padahal, ketika kita meninggalkan dunia ini, diri meminta kepada Allah SWT untuk dihidupkan kembali, agar dapat memperbaiki segala perbuatan buruk kita. Mirip setelah kita meninggalkan masa remaja, dimana kita biasa berharap, untuk bisa kembali ke masa remaja guna dapat mengedit beberapa perbuatan kita yang kurang tepat di waktu kita masih remaja.
Sebagaimana Allah SWT berfirman:
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.(surat Yasin 65)
Imam Ath-Thobary dalam Tafsir Ath-Thobary) juga menjelaskan bahwa lisan orang musyrikin kelak di hari kiamat akan dikunci oleh Allah Swt. Tangan mereka yang akan berbicara dan paha bagian kaki kiri mereka yang akan menjadi saksinya atas kemaksiatan yang telah dilakukan semasa hidup.
Adapun dalam Tafsir Ibnu Katsir, beliau menjelaskan dalam menafsiri ayat tersebut bahwa esok di hari kiamat orang kafir dan orang munafik akan mengingkari perbuatan dosa yang telah mereka lakukan di dunia. Bahkan mereka bersumpah bahwa tidak pernah melakukan perbuatan maksiat. Saat itulah Allah SWT, mengunci mulut mereka sehingga tidak bisa berbicara lagi. Lalu tangan mereka yang diperintah untuk berbicara dengan disaksikan oleh anggota yang lain.
Demikianlah ketika kematian akan mengungkapkan segalanya, apapun tak akan dapat tersembunyi di depan Allah SWT.
Seluruh keburukan akan dibalas dengan keburukan baik di dunia ataupun di akhirat, dan tak ada yang terlalaikan sekecil apapun.
Allah kemudian kemukakan dalam Al-Qur’an surah Assajdah :
“Ya tuhan kami, kami melihat dan mendengar maka kembalikan kami ke (dunia) niscaya kami akan berbuat kebaikan, sesungguhnya kami orang-orang yang yakin.”
Diri tak akan pernah diberi kesempatan untuk hidup lagi di dunia, guna dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan kita, menyakiti orang lain atau pun menyakiti orang banyak.
Mari berlomba berbuat kebaikan, bukan diam saja melihat keburukan, bahkan berteman dengan keburukan tersebut.
(Wallahu A’lam Bis-Shawabi).
SYAHRIR AR
Indonesia, Gowa, Senin, 9 Sep 2024








