SINJAI, kosongsatunews.com – Selasa pagi, 28 April 2026, cahaya matahari jatuh tegak di Dusun Borong Ampirie, Desa Kalobba, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai. Debu tipis beterbangan dari badan jalan tanah yang sedang dikerjakan. Di sisi kiri, hamparan sawah dan di kanan, tebing tanah menopang deretan pohon yang menjulang. Di tengah lanskap itu, belasan warga bergerak serempak: mencangkul, mengangkat, dan meratakan tanah.
Seorang pria berkacamata yang diselipkan di leher kausnya berdiri di depan kamera, mengabadikan momen itu. Ia adalah Taufiq, S.S., Kepala Desa Kalobba. Namun, perannya pagi itu tak berhenti sebagai pengamat. Di belakangnya, warga tampak bekerja tanpa jeda, sebagian membongkar tanah di sisi tebing, lainnya meratakan jalan yang menghubungkan Desa Kalobba dengan Desa Tibona, jalur penghubung Kabupaten Sinjai dan Bulukumba.
Ruas jalan itu bukan sekadar lintasan biasa. Ia menjadi urat nadi pergerakan warga dari aktivitas bertani hingga distribusi hasil kebun. Namun, kondisi yang belum memadai membuatnya rentan rusak. Permukaan yang tidak rata dan mudah tergerus air hujan kerap menyulitkan pengendara, terutama saat musim penghujan.
Gotong royong hari itu menjadi jawaban paling dekat yang bisa dilakukan warga. Dengan peralatan sederhana—cangkul, sekop, dan tenaga seadanya—mereka meratakan bagian jalan yang rusak. Tidak ada alat berat, tak pula proyek resmi yang membentang. Yang ada hanya kesadaran bersama bahwa akses ini terlalu penting untuk dibiarkan rusak lebih lama.
Taufiq menyebut kegiatan itu sebagai langkah darurat. Perbaikan yang dilakukan masih bersifat sementara, sekadar memastikan jalan tetap bisa dilalui. Harapan akan penanganan lebih permanen dari pemerintah daerah tetap ada, mengingat status jalan yang menghubungkan dua kabupaten.
Menjelang siang, garis jalan mulai tampak lebih rapi. Tanah yang sebelumnya berlubang kini perlahan diratakan. Warga masih bertahan, sebagian menunduk mengayunkan cangkul, sebagian lain berdiri mengatur alur pekerjaan.
Di sana, di antara tanah merah dan keringat yang mengalir, gotong royong menemukan bentuknya yang paling nyata—bukan sekadar tradisi, melainkan cara bertahan. Jalan itu mungkin belum sempurna, tetapi kebersamaan salam kerja bakti hari ini memberi alasan untuk tetap melintas.(Yusuf)





































