Bidik Layar, Bawa Nama Sinjai ke Panggung Nasional

JAKARTA, kosongsatunews.com  –  Riuh tepuk tangan pecah di salah satu ruang pertemuan Hotel Episode Gading Serpong, Selasa siang, 28 April 2026. Di antara deretan kepala sekolah dari berbagai daerah, nama SMP Negeri 7 Sinjai disebut sebagai juara pertama Lomba Foto Digitalisasi Pembelajaran 2026, sebuah ajang yang menakar sejauh mana sekolah mampu memotret transformasi belajar di era teknologi.

Sekolah yang bermukim di Jalan Muh Husni Thamrin, Kelurahan Biringere, Kecamatan Sinjai Utara itu seperti menemukan momentum. Bukan sekadar menang lomba foto, tetapi menegaskan satu hal: ruang kelas kini tak lagi dibatasi papan tulis dan kapur. Kamera, aplikasi, dan kreativitas menjadi medium pembelajaran.

Di tengah suasana seremoni, Nahiruddin melangkah menerima penghargaan. Ia tak berdiri sendiri. Di balik bingkai foto yang menang, ada kerja kolektif, guru yang bereksperimen dengan metode digital, siswa yang beradaptasi dengan ritme baru belajar, serta upaya sekolah meramu teknologi menjadi alat, bukan sekadar pelengkap.

“Ini bukan hanya milik sekolah kami,” ujar Nahiruddin kemudian. Kalimatnya terdengar sederhana, tetapi memuat pesan yang lebih luas: prestasi ini adalah representasi daerah. Sinjai, yang kerap dipandang pinggiran dalam peta pendidikan nasional, sesekali muncul ke permukaan lewat kerja-kerja sunyi seperti ini.

Lomba tersebut memang bukan kompetisi biasa. Ia menilai bagaimana digitalisasi diterjemahkan dalam praktik belajar, bukan sekadar perangkat canggih, melainkan bagaimana teknologi menghidupkan interaksi, memperkaya materi, dan menjembatani keterbatasan.

Bagi SMPN 7 Sinjai, proses itu tampaknya sudah berjalan. Foto yang mereka kirim bukan hanya estetika visual, melainkan narasi: siswa yang terlibat aktif, guru yang memanfaatkan platform digital, serta suasana kelas yang bergerak dinamis mengikuti zaman.

Nahiruddin mengakui, capaian ini tak lahir dari ruang hampa. Ia menyebut peran Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai sebagai salah satu penopang. Arahan dan dorongan, katanya, menjadi bahan bakar bagi sekolah untuk terus mencoba dan kadang, berani melampaui kebiasaan.

Di titik ini, penghargaan berubah makna. Ia bukan sekadar trofi yang dipajang di lemari kaca, melainkan penanda bahwa transformasi pendidikan bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari daerah yang jauh dari pusat.

Kemenangan ini juga menyisakan tantangan. Digitalisasi bukan tujuan akhir, melainkan proses panjang yang menuntut konsistensi. Apa yang telah diraih SMPN 7 Sinjai menjadi semacam pengingat: inovasi tak selalu lahir dari fasilitas mewah, tetapi dari kemauan untuk berubah.

Di Sinjai, gema kemenangan itu mungkin tak seramai di Jakarta. Namun, di ruang-ruang kelas yang perlahan beralih ke layar digital, prestasi ini menemukan maknanya yang paling nyata, sebagai inspirasi yang bergerak, dari satu sekolah ke sekolah lain.(Yusuf Buraerah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *