Lautan Putih Menggema dari Parepare ke Mangkoso: Majelis Syuhada Hidupkan Subuh Berjamaah, Perkuat Ukhuwah dan Jaga Warisan Ulama

KOSONGSATUNEWS.COM, PAREPARE, – Gelombang kebangkitan spiritual di waktu subuh kian terasa nyata melalui gerakan Majelis Syuhada Kota Parepare. Program Safari Shalat Subuh berjamaah yang mereka inisiasi tidak hanya menjadi rutinitas ibadah, tetapi telah menjelma menjadi fenomena sosial-keagamaan yang menggerakkan ratusan hingga ribuan jamaah lintas daerah di Sulawesi Selatan.

Pemandangan menggetarkan tampak saat rombongan “Pejuang Subuh” memadati Masjid Besar Ad Da’wah Mangkoso, Kabupaten Barru. Jamaah yang hadir dengan busana gamis serba putih menciptakan suasana religius yang kuat, menghadirkan simbol kesucian, persatuan, dan semangat menghidupkan salah satu ibadah paling utama dalam Islam.

Kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar shalat berjamaah.

Mangkoso merupakan pusat dakwah dan pendidikan Islam yang memiliki jejak sejarah kuat, terutama melalui peran ulama kharismatik Anre gurutta KH. Abdul Rahman Ambo Dalle, yang dikenal luas sebagai pendiri dan penggerak tradisi keilmuan Islam di kawasan tersebut.

Di balik geliat besar ini, peran muassis Majelis Syuhada, H. Bakhtiar Syarifuddin, menjadi sorotan dengan Gerakan 3S sebagai pilarnya (shalat, sedekah, dan silaturahmi), ia berhasil membangun gerakan dakwah yang sistematis, terukur, dan berkelanjutan. Kepemimpinannya dinilai mampu menggugah dan mengubah kesadaran individu menjadi gerakan kolektif yang nyata dampaknya di tengah masyarakat.

Sinergi dakwah dan dunia akademik juga terlihat kuat melalui peran Prof. Dr. Muhammad Agus, M.Ag., Rektor Institut Agama Islam DDI Mangkoso (IAI DDI Mangkoso) periode 2025–2029. Kehadirannya memperkuat dimensi intelektual dalam gerakan ini, hadir memastikan bahwa semangat ibadah berjalan seiring dengan penguatan ilmu dan tradisi ulama.

Tidak hanya memakmurkan masjid, jamaah Majelis Syuhada juga menunjukkan kontribusi nyata dalam menjaga fasilitas keagamaan. Dalam kunjungan pertama kali ke Mangkoso mereka sepakat menyiapkan etalase atau pelindung kaca khusus untuk Al-Qur’an berukuran besar di Masjid Ad Da’wah. Etalase sementara dalam proses produksi dan proses pengiriman, sebagai bentuk penghormatan terhadap mushaf dan simbol keilmuan Islam.

Fenomena “memutihkan masjid” yang menjadi ciri khas Majelis Syuhada kini semakin meluas. Shaf yang rapat, jamaah yang melimpah, serta interaksi hangat antar jamaah menjadi bukti bahwa masjid kembali hidup sebagai pusat ibadah dan persatuan umat.

Dengan konsistensi dan pola gerakan yang terorganisir, Majelis Syuhada tidak hanya membangun rutinitas ibadah, tetapi juga menghidupkan kembali peradaban masjid. Safari Subuh bukan sekadar perjalanan, melainkan gerakan kebangkitan ruhani yang menyatukan ibadah, ilmu, dan ukhuwah dalam satu langkah nyata.(MDS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *