SINJAI, kosongsatunews.com – Suara gemuruh itu datang lebih dulu daripada kabar resminya. Tanah di sekitar saluran irigasi Bendungan Apareng, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai, kembali bergerak turun. Longsoran memutus aliran air menuju hamparan sawah di Desa Palangka dan sekitarnya. Di tengah musim yang semestinya menjadi masa penting pemupukan, para petani justru sibuk memandangi saluran yang kering.
Di kampung-kampung persawahan itu, kegelisahan menyebar cepat. Petani yang selama ini menggantungkan hidup pada aliran irigasi Apareng mulai menghitung kemungkinan terburuk: padi yang gagal tumbuh sempurna karena kekurangan air. Sawah yang sebelumnya hijau perlahan berubah kusam.
AG, seorang petani yang ditemui di kawasan persawahan, mengaku kondisi itu membuat warga gusar. Menurut dia, waktu kerusakan itu datang menjadi persoalan paling serius. Sebab tanaman padi sedang berada pada fase membutuhkan pasokan air yang cukup untuk pemupukan.
“Irigasi yang dikerja Waskita baru-baru ini longsor lagi dan aliran air terputus. Saat ini masa pemupukan,” ujarnya dengan nada kecewa.
Bagi petani, air bukan sekadar kebutuhan teknis. Ia adalah penentu hidup-mati musim tanam. Ketika aliran tersendat hanya beberapa hari saja, biaya produksi bisa membengkak. Jika terlalu lama, ancamannya adalah gagal panen. Karena itu, kabar longsornya saluran irigasi Apareng segera menjadi pembicaraan dari pematang sawah hingga warung kopi.
Di lapangan, warga melihat material tanah runtuh menutup jalur air. Beberapa bagian saluran tampak rapuh akibat kondisi kontur yang curam. Kawasan itu memang dikenal memiliki medan berat, terutama ketika hujan terus mengguyur.
Namun di tengah keresahan warga, muncul pula pertanyaan mengenai proyek yang sebelumnya dikerjakan di lokasi tersebut. Sebagian masyarakat mengira kerusakan itu berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan pihak Balai Pompengan atau proyek yang dikerjakan kontraktor besar. Dugaan itu kemudian dibantah oleh Kepala Dinas PUPR Sinjai, Haris Achmad.
Menurut Haris, titik longsor yang menyebabkan aliran air terputus bukan bagian pekerjaan yang diserahkan oleh pihak Balai Pompengan pekan lalu. Ia menegaskan area tersebut merupakan pekerjaan yang menggunakan dana Bantuan Tidak Terduga atau BTT dari APBD Kabupaten Sinjai dengan sistem swakelola.
“Itu tidak termasuk yang diserahkan. Itu menggunakan dana BTT,” kata Haris saat dikonfirmasi, Jumat 29 Mei 2026.
Ia menjelaskan, pekerjaan itu mulai dikerjakan sejak November 2025. Namun prosesnya berulang kali terganggu akibat cuaca dan kondisi medan yang ekstrem. Alat berat yang dibutuhkan untuk memperbaiki saluran disebut sulit beroperasi ketika hujan turun.
“Sampai sekarang memang belum rampung karena menunggu cuaca yang bersahabat. Medannya sangat ekstrem sehingga alat berat belum bisa beroperasi dalam kondisi cuaca sekarang,” ujarnya.
Penjelasan itu belum sepenuhnya meredakan kegelisahan petani. Sebab di mata warga, persoalan utama bukan lagi soal siapa yang mengerjakan, melainkan kapan air kembali mengalir ke sawah mereka. Musim tanam tidak menunggu birokrasi maupun cuaca.
Di Desa Palangka dan wilayah sekitarnya, bendungan Apareng selama ini menjadi urat nadi pertanian. Ketika salurannya terganggu, denyut ekonomi warga ikut melemah. Petani harus memikirkan tambahan biaya, sementara hasil panen belum tentu menjanjikan.
Di tengah situasi itu, warga berharap perbaikan bisa segera dilakukan sebelum kerusakan semakin parah. Sebab bagi mereka, sawah bukan sekadar lahan produksi. Ia adalah ruang hidup yang diwariskan turun-temurun dan air adalah napas yang membuatnya tetap bertahan.(Yusuf Buraerah)














