BULUKUMBA, kosongsatunews.com – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas Pasar Tanete, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, pemandangan yang paling mencolok justru bukan ramainya pedagang atau lalu lalang pembeli. Yang terlihat mencolok adalah tumpukan sampah yang menggunung di tepi jalan utama. Plastik, sisa sayuran, limbah rumah tangga hingga sampah pasar bercampur menjadi satu, menghadirkan kesan kumuh di kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat Bulukumpa.
Kondisi tersebut memicu reaksi warga. Salah satunya datang dari Agung Prakoso melalui media sosial. Ia tidak sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Sebaliknya, ia mempertanyakan mengapa persoalan yang begitu nyata seolah belum menemukan solusi yang jelas.
“Yang saya mau tahu mencari solusi untuk sampah-sampah ini,” tulisnya, Minggu, 31 Mei 2026.
Pernyataan itu sederhana, tetapi menyentuh inti persoalan yang selama ini sering terjebak dalam polemik saling menyalahkan. Ketika sampah sudah menumpuk di badan jalan, masyarakat sebenarnya tidak lagi membutuhkan perdebatan panjang mengenai siapa yang paling bertanggung jawab. Yang mereka tunggu adalah tindakan nyata.
Tanete bukanlah kawasan biasa. Wilayah ini merupakan ibu kota Kecamatan Bulukumpa dan menjadi salah satu pusat perdagangan yang melayani aktivitas ekonomi masyarakat dari berbagai desa di sekitarnya. Bahkan, pengembangan Pasar Tanete pernah menjadi perhatian karena posisinya yang strategis serta dampaknya terhadap aktivitas lalu lintas di jalur Bulukumba–Sinjai.
Karena itu, muncul pertanyaan yang kini berkembang di tengah masyarakat: apakah fasilitas pengelolaan sampah di kawasan pasar sudah memadai? Jika pasar menjadi pusat perputaran ekonomi yang besar setiap hari, maka persoalan kebersihan semestinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kawasan tersebut.
Kondisi tumpukan sampah di pinggir jalan bukan hanya soal estetika kota. Lebih dari itu, persoalan tersebut menyangkut kesehatan masyarakat, kenyamanan pedagang, serta citra wilayah. Di musim hujan, sampah berpotensi menyumbat saluran drainase. Di musim panas, bau menyengat menjadi keluhan yang hampir selalu muncul.
Ironisnya, persoalan sampah sering kali muncul di tengah berbagai pembangunan infrastruktur yang terus berjalan. Jalan diperbaiki, fasilitas publik dibangun, tetapi urusan kebersihan terkadang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Padahal, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari banyaknya proyek fisik yang berdiri, melainkan juga dari kualitas lingkungan yang dirasakan masyarakat setiap hari.
Suara Agung Prakoso juga menyentil para wakil rakyat di DPRD. Bukan dalam bentuk tuduhan, melainkan sebagai pengingat bahwa keluhan masyarakat adalah bagian dari fungsi pengawasan yang harus didengar. Sebab ketika warga mulai menyampaikan keresahan melalui media sosial, itu menandakan ada persoalan yang mereka nilai belum mendapat perhatian yang cukup.
Pemerintah daerah tentu memiliki tantangan tersendiri dalam pengelolaan sampah. Namun, berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa persoalan serupa dapat ditekan melalui kombinasi penyediaan fasilitas yang memadai, pengangkutan yang terjadwal, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah dari sumbernya.
Pada akhirnya, tumpukan sampah di Tanete bukan sekadar soal limbah yang menumpuk di pinggir jalan. Ia telah berubah menjadi simbol dari harapan masyarakat terhadap pelayanan publik yang lebih baik. Warga tidak sedang meminta sesuatu yang mewah. Mereka hanya ingin pasar yang bersih, jalan yang nyaman dilalui, dan lingkungan yang layak menjadi wajah ibu kota kecamatan.
Karena ketika sampah mulai mengambil ruang jalan, yang dipertaruhkan bukan hanya kebersihan lingkungan, tetapi juga kepercayaan masyarakat bahwa persoalan mereka benar-benar didengar. (Yusuf Buraerah)














