SIDRAP, KOSONGSATUNEWS.COM, — Ketua Program Studi (Kaprodi) Bisnis Digital Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang), Andi Riska Andreani Syafaruddin, menilai Training Digital Business (TDB) bukan sekadar kegiatan organisasi mahasiswa. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, bertumbuh, sekaligus membangun karakter sebagai calon digitalpreneur.
Hal itu disampaikan Andi Riska saat menghadiri kegiatan Training Digital Business (TDB) yang digelar Himpunan Mahasiswa Bisnis Digital (HIMABISDIG) Prodi Bisnis Digital FEB UMS Rappang di Auditorium H. Zaini Razak, Senin (14/9/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Collaborative Digitalpreneur: Kreatif, Kolaboratif, Berdampak Nyata” tersebut dibuka Wakil Dekan II FEB UMS Rappang, Muhammad Rusdi, S.Ag., M.Adm.KP. Kegiatan juga dihadiri sejumlah dosen serta mahasiswa baru Prodi Bisnis Digital.
“Saya melihat TDB ini bukan hanya sekadar kegiatan organisasi mahasiswa. TDB merupakan ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang membangun karakter mahasiswa Bisnis Digital,” kata Andi Riska.
Dia mengatakan mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori bisnis dan teknologi di ruang kelas. Pengetahuan yang diperoleh perlu diimplementasikan dalam kehidupan, terutama untuk menghadapi perkembangan dunia bisnis yang semakin terdigitalisasi.
Menurutnya, tema yang diangkat dalam TDB memiliki tiga pesan penting bagi mahasiswa, yakni kreatif, kolaboratif, dan berdampak nyata.
Kreativitas, kata Andi Riska, menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki mahasiswa Bisnis Digital. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakan solusi melalui pemanfaatan teknologi.
“Mahasiswa Bisnis Digital harus mampu punya kreativitas. Mahasiswa tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi mampu menciptakan solusi melalui teknologi tersebut,” ujarnya.
Selanjutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berkolaborasi. Menurut Andi Riska, seorang digitalpreneur tidak dapat berkembang dengan berjalan sendiri.
Kolaborasi dapat dibangun dengan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa lintas bidang, dosen, pelaku UMKM, pemerintah hingga komunitas.
“Digitalpreneur tidak benar-benar berkembang sendirian. Pasti membutuhkan kolaborasi, bukan hanya dari berbagai bidang, tetapi juga dengan dosen, pelaku UMKM, pemerintah ataupun komunitas lainnya,” jelasnya.
Selain kreatif dan kolaboratif, mahasiswa juga didorong menghasilkan dampak nyata. Ide bisnis yang dimiliki tidak boleh berhenti pada konsep, melainkan harus diwujudkan menjadi karya, produk, maupun proyek yang memberikan manfaat.
“Mahasiswa Bisnis Digital bukan hanya punya banyak ide, tetapi harus mampu memiliki karya. Bukan hanya membuat presentasi tentang bisnis, tetapi bagaimana membangun bisnis dengan dampak nyata,” katanya.
Andi Riska berharap TDB dapat menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk melahirkan ide bisnis baru dan mengembangkan proyek digital yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semoga kegiatan ini menjadi awal munculnya ide bisnis baru, lahirnya proyek bisnis digital, serta menghasilkan karya yang memberikan manfaat ke depan,” pungkasnya.(MDS)














