BONE, kosongsatunews.com – Di atas kertas berkop Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bone, sebuah laporan resmi bertanggal 20 April 2026 merangkum arah persiapan Pekan Olahraga Provinsi. Isinya bukan sekadar notulensi rapat. Ia memotret ambisi, beban, sekaligus peluang bagi dua daerah yang ditunjuk sebagai tuan rumah.
Surat itu ditujukan kepada Bupati Bone. Intinya jelas: pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan XVIII 2026 akan digelar di dua kabupaten, yakni Kabupaten Bone dan Kabupaten Wajo. Penetapan tersebut merujuk pada keputusan Gubernur Sulawesi Selatan yang terbit pada Desember 2025.
Rapat yang menjadi dasar laporan itu berlangsung di Makassar, melibatkan unsur Dispora dan Komite Olahraga Nasional Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan. Waktu pelaksanaan pun telah dipatok: sepuluh hari pada November 2026. Namun, detail seremoni pembukaan dan penutupan masih menggantung, menunggu hasil verifikasi teknis dari tim delegasi.
Di balik kepastian jadwal, terselip pekerjaan rumah yang tak ringan. Pemerintah Provinsi menjanjikan dukungan anggaran melalui skema bantuan keuangan pada APBD Perubahan 2026. Tapi itu belum cukup. Pemerintah Kabupaten Bone diharapkan ikut menggenjot dukungan, baik dari sisi anggaran maupun kesiapan arena pertandingan, dalam dokumen disebut sebagai “venew” beserta penataan lingkungan sekitarnya.
Skalanya besar. Sedikitnya 45 cabang olahraga akan dipertandingkan. Jumlah atlet diperkirakan mencapai 9.674 orang, belum termasuk sekitar 4.837 ofisial. Angka itu belum menghitung gelombang pendukung dari berbagai kontingen kabupaten/kota. Artinya, Porprov bukan sekadar ajang olahraga, melainkan peristiwa sosial-ekonomi yang akan menggerakkan banyak sektor.
Bagi Bone dan Wajo, status tuan rumah adalah peluang sekaligus ujian. Infrastruktur harus siap, koordinasi lintas sektor tak boleh longgar, dan wajah daerah akan menjadi sorotan publik Sulawesi Selatan. Di atas semua itu, ada pertanyaan yang diam-diam mengemuka: sejauh mana kesiapan daerah menyambut hajatan sebesar ini?
Laporan itu menutup dengan kalimat formal: “Demikian kami laporkan.” Namun, di balik frasa singkat tersebut, tersimpan kerja panjang yang baru saja dimulai.(Yusuf)





