Menegakkan Batu, Meneguhkan Iman di Halaman Sekolah

SINJAI, kosongsatunews.com – Di bawah rindang pohon yang menaungi halaman sekolah, sejumlah aparatur berseragam cokelat berdiri melingkar. Siang itu, Selasa, 28 April 2026, suasana di SD Negeri 107 Kaloling tampak berbeda. Sebuah lubang pondasi telah disiapkan, tumpukan batu kali menggunung di sisinya. Di sanalah, sebuah awal ditandai, bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan ikhtiar membangun ruang spiritual bagi generasi muda.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai, Irwan Syuaib, menunduk sejenak sebelum meletakkan batu pertama. Tangannya yang menggenggam batu tampak mantap, lalu perlahan menaruhnya ke dalam adukan pondasi. Tepuk tangan pun pecah, sederhana namun sarat makna. Prosesi itu menjadi penanda dimulainya pembangunan musholah di lingkungan sekolah tersebut.

Di sekelilingnya, para guru, tokoh masyarakat, dan aparat desa menyaksikan dengan khidmat. Tak jauh dari lokasi, beberapa siswa berseragam merah putih mengintip, seolah ingin turut memahami momen yang kelak akan menjadi bagian dari cerita sekolah mereka.

Kepala Desa Kaloling, Bustan H. Aras, yang turut hadir, menyebut pembangunan musala ini bukan hasil dari proyek besar, melainkan buah gotong royong warga.

“Ini swadaya masyarakat. Ada yang menyumbang tenaga, ada yang membawa bahan, semua terlibat,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan satu hal: pembangunan musala ini tidak semata tentang bangunan, tetapi juga tentang solidaritas. Di tengah keterbatasan anggaran, warga memilih bergerak bersama, mengumpulkan apa yang mereka miliki, lalu mengubahnya menjadi fondasi nyata.

Irwan Syuaib dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi atas inisiatif masyarakat. Menurutnya, kehadiran musala di lingkungan sekolah menjadi bagian penting dalam membentuk karakter siswa. “Pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga pembinaan moral dan spiritual,” katanya singkat.

Pembangunan musala ini diharapkan menjadi ruang baru bagi siswa untuk belajar nilai-nilai keagamaan, sekaligus tempat bernaung dari hiruk-pikuk aktivitas belajar. Di sekolah yang sebelumnya belum memiliki fasilitas ibadah memadai, kehadiran mushollah menjadi kebutuhan yang lama dinantikan.

Siang itu, batu pertama telah diletakkan. Namun yang sesungguhnya dibangun bukan hanya dinding dan atap, melainkan harapan, bahwa di tempat ini, anak-anak tak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga meneguhkan nilai-nilai kehidupan.(Yusuf Buraerah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *