Mawar dari Songing: Varietas Lokal, Harapan Baru Petani Sinjai

SINJAI, kosongsatunews.com – Di hamparan sawah Desa Songing, Kecamatan Sinjai Selatan, bulir-bulir padi tampak merunduk lebih cepat dari biasanya. Musim panen seolah datang lebih dini. Di tengah petak sawah itu, Andi Maddolangeng berdiri bersama anggota kelompok taninya, Mattoanging, beranggotakan sekitar 45 petani yang sejak 2023 mencoba sesuatu yang berbeda: menanam varietas padi unggul bernama “Mawar”.

Nama itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi para petani di Songing, “Mawar” bukan sekadar varietas. Ia adalah jawaban atas kegelisahan panjang soal hasil panen yang stagnan dan biaya produksi yang terus naik.

“Alhamdulillah, petani di wilayah kami sangat puas,” kata Andi Maddolangeng, Rabu, 29 April 2026. Ia menyebut, selain produktivitas yang meningkat, beras dari varietas ini memiliki tekstur pulen dengan aroma khas pandan, ciri yang jarang ditemukan pada varietas lain di kelasnya.

Di atas lahan sekitar 24 hektare yang dikelola kelompok tani Mattoanging, Mawar menunjukkan performa yang cukup menjanjikan. Rata-rata hasil panen mencapai 6 hingga 7 ton per hektare, angka yang, menurut Andi Maddolangeng, lebih tinggi dibanding varietas unggul yang sebelumnya mereka tanam.

Tak hanya itu, umur tanam yang relatif genjah, sekitar 80 hingga 85 hari setelah tanam, memberi keuntungan tambahan. Petani bisa mempersingkat siklus produksi, membuka peluang untuk musim tanam berikutnya dalam waktu lebih cepat.

Di tingkat teknis, keunggulan Mawar terlihat dari struktur tanaman. Bulirnya cenderung besar, dengan jumlah gabah per malai berkisar antara 170 hingga 300 butir. Kombinasi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan hasil panen.
Selain itu, tanaman ini dinilai cukup tahan rebah dan relatif “bandel” terhadap serangan hama dan penyakit, dua persoalan klasik yang kerap menghantui petani.

Eksperimen kecil di Snging rupanya mulai menarik perhatian. Dalam dua tahun terakhir, varietas Mawar telah menyebar ke sejumlah desa lain di Kabupaten Sinjai, seperti Polewali, Gareccing, Mattunreng Tellue, Bijinangka, hingga wilayah Sinjai Barat. Penyebaran itu berlangsung secara organik, dari petani ke petani, tanpa banyak intervensi formal.

Di tengah tren tersebut, mekanisasi pertanian juga mulai mengambil peran. Mesin panen yang tampak di lokasi menjadi penanda perubahan cara kerja petani. Waktu panen kini bisa dipangkas lebih singkat, memberi efisiensi tenaga dan biaya.

Namun bagi Andi Maddolangeng dan kelompoknya, perjalanan ini belum selesai. Di balik capaian yang ada, mereka menyimpan harapan yang lebih besar: menjadi penangkar resmi benih varietas Mawar.

“Harapan kami, ada dukungan dari pihak terkait agar varietas ini bisa dikembangkan lebih luas,” ujarnya.

Di Desa Songing, sawah bukan sekadar ruang produksi. Ia adalah laboratorium hidup, tempat inovasi lahir dari pengalaman, dan harapan tumbuh dari kerja kolektif. Mawar, dengan segala keunggulannya, mungkin baru satu langkah kecil. Tapi bagi petani di sini, langkah itu sudah cukup untuk mengubah arah.(Yusuf Buraerah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *