Kerja Bakti di Jalur Dua: Gotong Royong atau Sekadar Simbol?

SAOTENGAH, kosongsatunews.com — Di tengah kesibukan proses pemilihan antarwaktu (PAW) Kepala Desa Saotengah yang sedang menjadi perhatian masyarakat, Pemerintah Desa Saotengah memilih menampilkan wajah lain pemerintahan: kerja bakti membersihkan Taman Jalur Dua. Informasi mengenai kegiatan itu disampaikan melalui akun Facebook Bapana Aco (Firman), salah seorang Kepala Urusan (Kaur) Desa Saotengah, pada Minggu, 28 Juni 2026.

Dalam unggahannya, Firman menjelaskan bahwa kerja bakti dilakukan untuk menjaga kebersihan taman yang berada di jantung aktivitas pelayanan publik, tepat di depan Puskesmas Lappae, Pasar Lappae, dan Kantor Desa Saotengah. Pemerintah desa juga mengajak masyarakat menjadikan kebersihan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas aparatur desa.

Terdengar sederhana. Namun, di balik sapu dan rumput yang dibersihkan, tersimpan pesan yang lebih luas mengenai bagaimana pemerintah desa ingin membangun citra pelayanan publik.

Taman Jalur Dua bukan sekadar ruang terbuka. Letaknya yang berada di pusat pemerintahan membuat kawasan itu menjadi etalase pertama yang dilihat masyarakat. Kebersihan kawasan tersebut akan memengaruhi kesan warga terhadap kualitas tata kelola pemerintahan desa.

Meski demikian, kerja bakti semestinya tidak berhenti pada kegiatan seremonial yang didokumentasikan untuk media sosial. Ukuran keberhasilannya justru terletak pada konsistensi menjaga kebersihan setelah kegiatan selesai. Tidak sedikit ruang publik yang tampak bersih saat ada kerja bakti, tetapi kembali dipenuhi sampah beberapa hari kemudian karena tidak dibarengi perubahan perilaku masyarakat maupun sistem pengelolaan kebersihan.

Ajakan Pemerintah Desa Saotengah agar seluruh warga menjaga kebersihan hingga ke setiap dusun patut diapresiasi. Namun, ajakan tersebut akan lebih bermakna apabila diikuti dengan langkah nyata, seperti penyediaan fasilitas tempat sampah yang memadai, jadwal pemeliharaan rutin, edukasi lingkungan, hingga pelibatan kelompok masyarakat, pemuda, dan sekolah dalam menjaga ruang publik.

Gotong royong merupakan nilai sosial yang telah lama menjadi kekuatan masyarakat desa. Tantangannya kini bukan sekadar menghidupkan kembali budaya kerja bakti, tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan yang berkelanjutan.

Kerja bakti di Taman Jalur Dua dapat dibaca sebagai pesan bahwa wajah desa dimulai dari ruang publiknya. Sebab, taman yang bersih memang mencerminkan kepedulian pemerintah dan masyarakat. Namun, tata kelola desa yang baik tidak hanya diukur dari bersihnya taman, melainkan juga dari konsistensi pelayanan publik, keterbukaan pemerintahan, serta kemampuan membangun partisipasi warga dalam setiap aspek pembangunan.

Pada akhirnya, sapu yang diayunkan aparat desa bukan hanya membersihkan dedaunan yang gugur. Ia juga menjadi pengingat bahwa merawat desa membutuhkan kerja bersama yang tidak cukup dilakukan dalam sehari, melainkan harus menjadi budaya yang terus dipelihara.(Yusuf Buraerah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *