Penyalin: Gus Badawi
Kerabat Pemimpin Spiritual Nusantara
Pada 13 Agustus, Kuba merayakan ulang tahun ke-100 kelahiran pemimpin revolusioner Fidel Castro.
Menurut pemerintah Kuba, lebih dari 1.500 aktivis dan perwakilan organisasi solidaritas dari lebih dari 60 negara di Amerika Latin, Eropa, Afrika, dan Asia bepergian ke Kuba minggu ini untuk mengikuti acara peringatan Fidel Castro.
Penulis dan penulis esai Miguel Barnet, yang juga anggota Kongres Nasional Kuba, mengatakan kepada The Associated Press, “Saya percaya [Fidel Castro] meninggalkan Kuba warisan kehormatan, moralitas, kerja tanpa lelah, dan kepedulian terhadap orang miskin.”
Barnet menambahkan bahwa Castro juga meninggalkan “sebuah filosofi yang diterjemahkan menjadi kebijakan konkret di bidang seperti budaya, pendidikan, dan kesehatan publik.”
Bagi banyak orang, dampak Castro melampaui Kuba, dengan pendukung di seluruh dunia terus melihatnya sebagai simbol perlawanan dan revolusi. Castro memimpin Revolusi Kuba pada tahun 1959 dan tetap menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di kiri internasional selama beberapa dekade sebelum kematiannya pada November 2016.
Warisan politiknya tetap menjadi titik perhatian utama di Kuba dan Amerika Latin, serta di kalangan gerakan revolusioner dan solidaritas di seluruh dunia. (Al Mayadeen English).
____________
Hari Kemerdekaan 81 Yang Jadi Momentum Emas
Nostalgia “Kemesraaan Ilahiah” Fidel Castro, Bung Karno bahkan pemimpin sebelumnya Simon Bolivar bersama Che Guevara dengan “Cerutu yang Abadi”. Gerakan “Non Blok” Bung Karno dkk diinspirasi Para Pemimpin Dunia: Abraham Lincoln, Thomas Jefferson, Winston Churchil, Nikita Khrushchev, John F Kennedy, Otto Van Bismark, Kaisar Hirohito, dr Sun Yat Sen, Kim Yong In, Jawaharlal Nehru – Rabindra Natagore, Imam Khomeini – Iman Ali Kamenei, Paus John Paul II – Paus Franciskus, Dalai Lama, Mikail Gorbachev, Nelson Mandela, Syaikh Baba, Hugo Chaves dkk, dibawah koordinasi halus lembut “Cah Angon – Satrio Piningit – Ratu Adil – Heru Cokro – Imam Mahdi”.
Bung Karno & Indonesia lebih dari “struktur ideologi sosialisme keadilan dalam ideologi gotong royong – egaliter komunal sosialistik – share holder kekeluargaan bangsa identik dengan Cuba/ Castro” (yang juga dibawa HOS Cokroaminoto, Imam Kartosuwiryo, H Agus Salim, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Muso, Alimin dkk), lebih dari itu adalah Hidup Berkesadaran – Spiritualitas Kesejatian pada Pemimpin Satria Pinandita – Jagoan Ilahi (Romo Sri Eko Sriyanto Galgendu), yang merupakan Manusia Citra Ilahi (Abdul Karim Al Jilli, Ibn Arabi), yang merangkum Kesadaran Kosmis (Ronggowarsito) meliputi “Sedulur Papat plus Ibu Bumi dan Bapa Langit”, dalam “Kawruh Begja & Kawruh Jiwa yang menghasilkan out put kesadaran Momen Kekinian: Saiki Kene, Ngene – Aku Gelem – Sekarang, Disini, Beginilah Keadaannya Aku Menerima Dengan Suka Cita” (Kiageng Suryomentaram). Dalam Filosofi Pendidikan “Ngerti, Ngroso, Nglakoni dengan Taman Siswa sebagai Model Sekolah Kehidupan, yang di Finlandia menjadi Faktor Penting yang menjadikannya Pendidikan no.1 di Dunia (Kihajar Dewantoro).
Tetapi, memang Pemimpin Jagoan Ilahi – Satria Pinandita tersebut membawa visi misi/ dasar-dasar kebenaran “Jalan Lurus”:
1.Pohon Peradaban Esoteris – Ruh Nusantara Indonesia yang integral organik dari akar hingga dahan & buah, dengan Sejarah Panjangnya yang Agung Adi Luhung,
2.Tata Pohon Peradaban “Republik – Res Publica – Kepentingan Kemaslahatan Umum Rakyat”, dan
3.Nilai-nilai Luhur dari Leluhur Nusantara Indonesia yang tersimpul dalam Nilai-nilai Universal Pancasila Seutuhnya yang diperkenalkan Bung Karno ke seluruh dunia, yang juga adalah “Apinya Islam”.
Dengan kompromi “Win-win Solution” antara dimensi Agama-agama & Kebangsaan (Hadratussyekh KH Hasyim Asyari, Sang Cucu Gus Dur) dalam Formula “Nasionalisme, Agama-Agama & Sosial Demokrat” (Achmad Badawi), dari Anasir-anasir penghuni “Roemah Tjokro” kepada “Rumah NKRI” dengan Landasan Idealitas Holistik yang Agung Adiluhung sejak Dekrit Presiden Soekarno Juli 1959.
Yang belum ditunaikan pada 32 tahun Masa Orde Baru yang Otoriter yang ‘Dilengser Keprabonkan’ Mei 1998. Dan era Orde Reformasi yang mati sebelum bertumbuh/ bertunas (Prof Dr Amien Rais), yang “97% sudah keluar dari Jati Diri Bangsa dengan Kupdeta Amandemen UUD Palsu Tahun 2002 dengan Pandangan Dunia ‘Materialis – Nekolim – Neolib dst dengan Anasi-anasirnya’ yang mengkhianati Hati Nurani Bangsa (Penelitian Prof Dr Kalelan dari Universitas Gajahmada).
Presiden Prabowo Subiyanto yang mengantarai “Dua Zaman” (ikhlas buat Rakyat, Gus Dur), akan terpulang kepada “Hidup Berkesadaran – Spiritualitas Kesejatian” dari Romo Sri Eko Sriyanto Galgendu – Ayah Guru Syaiful Karim dkk, “Dewan Tetua Bangsa”, para Sejati Nusantara, para Putra-putra Terbaik Bangsa, generasi Progressif Nusantara Indonesia yang berintegritas dengan nasionalisme kebangsaan yang kokoh – menyala-nyala dan Dukungan Semesta (Mestakung).
Semoga Nusantara Indonesia dari keadaan
“Tidak Baik-baik” berangsur menjadi “Baik”, dengan Doa Para Leluhur Nusantara yang ingin Pohon Peradaban Esoteris – Ruh Nusantara Indonesia yang Berkeadaban “Personal, Sosial, Semesta” yang “Jaya dan Raya” (WR Soepratman). (**)
















