Usai Upacara, Janji Diteken: Sinjai Dorong SPMB Transparan Tanpa Diskriminasi

SINJAI, kosongsatunews.com  – Pagi belum benar-benar beranjak siang ketika halaman Kantor Bupati Sinjai, Senin, 4 Mei 2026, berubah menjadi ruang simbolik komitmen. Usai upacara Hari Pendidikan Nasional, agenda tak langsung bubar. Para pejabat tetap bertahan, berdiri, berbincang singkat, lalu berbaris dalam satu garis kepentingan: pendidikan yang lebih tertib dan terbuka.

Di bawah sorot mata para undangan, Bupati Sinjai, Hj. Ratnawati Arif, memimpin penandatanganan Komitmen Bersama Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026. Dokumen itu bukan sekadar formalitas tahunan. Ia memuat janji yang kerap diulang, tapi tak selalu mudah dijaga: objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan, dan tanpa diskriminasi.

Kepala OPD, hingga unsur pendidikan turut membubuhkan tanda tangan. Momen ini seperti ingin menegaskan satu hal bahwa proses penerimaan siswa baru tak lagi boleh menyisakan ruang abu-abu. Setidaknya, di atas kertas, semua sepakat.

Namun seremoni tak berhenti pada komitmen administratif. Di sela suasana yang mulai mencair, penghargaan diberikan. UPTD SMP Negeri 7 Sinjai menerima piagam sebagai Juara I Lomba Foto Digitalisasi Pembelajaran dari Kemendikdasmen. Sebuah capaian yang menandai bagaimana teknologi mulai meresap ke ruang-ruang kelas, bahkan di daerah.

Di sisi lain, UPTD SMP Negeri 13 Sinjai disebut sebagai kandidat Sekolah Rujukan Google label yang tak ringan. Ia menuntut kesiapan infrastruktur, kompetensi guru, hingga adaptasi metode belajar berbasis digital. Predikat “kandidat” di sini terasa seperti pintu awal, bukan garis akhir.

Penyerahan penghargaan dilakukan langsung oleh Bupati. Senyum dan jabat tangan mengisi jeda seremoni. Sebuah gestur sederhana, namun cukup untuk memberi pesan: prestasi di sektor pendidikan tetap mendapat tempat di tengah rutinitas birokrasi.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai, Irwan Syuaib, tampak mendampingi. Perannya tak sekadar administratif. Di balik capaian dan komitmen itu, ada kerja panjang yang tak selalu terlihat, mulai dari perencanaan hingga evaluasi di lapangan.

Hardiknas tahun ini di Sinjai, pada akhirnya, bukan hanya soal upacara dan pidato. Ia menjadi panggung kecil bagi dua hal yang kerap berjalan beriringan tapi tak selalu seimbang: janji tata kelola yang bersih, dan upaya nyata meningkatkan mutu pendidikan.

Pertanyaannya kini sederhana, meski jawabannya kerap rumit: sejauh mana komitmen itu akan bertahan setelah tinta tanda tangan mengering?(Yusuf Buraerah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *