Warga Menambal Jalan, Pemerintah Ditampar Kenyataan

BONE  kosongsatunews.com  – Di tengah keluhan panjang soal jalan rusak yang tak kunjung tertangani, warga Desa Waetuo dan Desa Gona, Kabupaten Bone, justru memberi pelajaran penting tentang arti kepedulian sosial. Mereka tidak memilih menunggu. Tidak sibuk saling menyalahkan. Warga dua desa itu sepakat patungan membeli material lalu bergotong royong menutup lubang di ruas jalan poros Sinjai–Palattae yang selama ini dikenal rawan kecelakaan, Sabtu 23 Mei 2026.

Pemandangan itu tampak sederhana. Sejumlah warga memegang cangkul, menghamparkan batu dan sirtu di tengah terik matahari, sementara kendaraan melintas perlahan menghindari lubang yang selama ini mengancam pengendara. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: masyarakat ternyata masih memiliki kesadaran kolektif ketika keselamatan bersama dipertaruhkan.

Arif Andi Gadjong menyebut warga “patut diacungi jempol” terasa relevan dengan situasi tersebut. Sebab yang dilakukan warga bukan sekadar menambal jalan, melainkan menambal kelalaian yang terlalu lama dibiarkan.

Jalan poros Sinjai–Palattae bukan jalur kecil tanpa aktivitas. Ruas itu menjadi akses penting mobilitas warga, hingga jalur penghubung antardaerah (jalan provinsi red). Ketika kerusakan dibiarkan bertahun-tahun tanpa penanganan serius, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan, tetapi nyawa manusia.

Warga mengaku jalan berlubang di kawasan tersebut sudah berulang kali menyebabkan kecelakaan. Motor terjatuh, kendaraan rusak, bahkan pengendara harus mempertaruhkan keselamatan setiap kali melintas, terutama pada malam hari atau saat hujan turun.

Yang menarik, aksi swadaya seperti ini kini bukan lagi peristiwa langka di berbagai daerah Indonesia. Fenomena warga turun langsung memperbaiki jalan rusak mulai sering muncul sebagai bentuk respons atas lambannya penanganan infrastruktur. Di beberapa daerah lain, masyarakat bahkan rela menggunakan dana pribadi demi menutup lubang jalan yang dianggap membahayakan.

Di satu sisi, gotong royong warga memang layak diapresiasi sebagai cermin kuatnya solidaritas sosial masyarakat desa. Budaya saling membantu masih hidup dan menjadi kekuatan yang tidak semua daerah miliki. Tetapi di sisi lain, kondisi ini sekaligus menjadi alarm keras bagi pemerintah.

Sebab ketika masyarakat sudah harus turun tangan memperbaiki jalan umum dengan uang sendiri, publik tentu bertanya: di mana negara ketika fungsi pelayanan dasar itu dibutuhkan?
Perbaikan jalan oleh warga memang bisa menjadi solusi sementara. Namun jalan yang rusak berat tentu membutuhkan penanganan permanen, teknis, dan terukur. Tidak cukup hanya ditimbun batu atau sirtu agar kembali rata beberapa minggu.

Aksi warga Waetuo dan Gona bukan hanya tentang gotong royong. Ia menjadi simbol tentang bagaimana masyarakat memilih bergerak ketika keadaan terlalu lama dibiarkan. Mereka tidak membuat spanduk protes, tidak menutup jalan, tidak pula sibuk mencari kambing hitam. Mereka memilih bekerja bersama demi mencegah korban berikutnya jatuh di jalan yang sama.

Dan, justru di situlah tamparan moral terbesar bagi para pemangku kebijakan.(Yusuf Buraerah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *